Rupiah Undervalued: Pelemahan Tidak Selalu Cerminkan Kekuatan Ekonomi Indonesia
New Policy – Sebagai bagian dari New Policy yang sedang dijalankan, ekonomi Indonesia menghadapi tantangan terkait pelemahan nilai tukar rupiah. Meski mata uang Garuda terus mengalami penurunan, berbagai indikator ekonomi menunjukkan bahwa rupiah masih dianggap undervalued. Analisis dari Josua Pardede, ekonom utama Permata Bank, memperlihatkan bahwa pelemahan nominal rupiah belum sepenuhnya merefleksikan kinerja sektor ekonomi nasional, termasuk daya saing dan kapasitas ekspor Indonesia.
Penilaian Berdasarkan Indikator REER
Josua menekankan bahwa penentuan apakah rupiah benar-benar undervalued harus melalui pengukuran indikator real effective exchange rate (REER), bukan hanya angka nominal. Dengan mempertimbangkan faktor ekonomi makro seperti inflasi, pertumbuhan produktivitas, dan daya beli masyarakat, REER menjadi acuan yang lebih akurat. “Pelemahan rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kenyataan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki potensi yang baik,” tambahnya, menyoroti pentingnya New Policy dalam mengatur keseimbangan nilai tukar.
“Nilai tukar real rupiah tetap dianggap undervalued. Jadi, pelemahan yang terjadi saat ini tidak sepenuhnya menggambarkan daya tahan ekonomi nasional,” ujar Josua dalam Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I-2026, Selasa (12/5/2026).
Kinerja Pasar Modal dan Aliran Modal
Dalam konteks New Policy, arus modal asing menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika nilai tukar rupiah. Josua mengungkapkan bahwa sejak awal tahun hingga awal Mei 2026, investor asing tercatat menjual obligasi pemerintah sebesar USD 0,7 miliar dan saham sekitar USD 2,2 miliar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak selalu mencerminkan kinerja ekonomi yang buruk, karena kebijakan yang diterapkan masih memiliki dampak positif pada stabilitas pasar.
“Kita harus melihat bahwa New Policy memberikan ruang untuk intervensi di pasar keuangan, termasuk upaya mengatur imbal hasil obligasi agar tetap menarik,” jelas Josua.
Strategi Pemerintah dan Peran Bank Indonesia
Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Bank Indonesia tetap menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai bagian dari New Policy. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan bekerja sama dengan BI untuk memastikan kinerja ekonomi tetap stabil meski ada tekanan dari pelemahan mata uang. “New Policy ini menekankan koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk mendukung penguatan rupiah secara bertahap,” tambahnya.
“Kita akan mulai mengaktifkan instrumen seperti Bond Stabilization Fund (BSF) untuk membantu mengatur pasokan modal di pasar keuangan,” ujar Purbaya.
Kondisi Ekonomi Makro dan Faktor Internasional
Pelemahan rupiah dalam konteks New Policy juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global. Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan dari inflasi di negara-negara berkembang dan lonjakan suku bunga di AS berdampak pada nilai tukar mata uang lokal. Namun, Josua menekankan bahwa pemerintah dan BI memiliki kemampuan untuk mengimbangi tekanan ini melalui kebijakan yang lebih fleksibel. “New Policy membuka ruang bagi BI untuk melakukan penyesuaian kebijakan moneter sesuai dengan kondisi ekonomi yang dinamis,” katanya.
Perspektif Jangka Panjang dan Tantangan Mendatang
Pembicaraan tentang New Policy tidak hanya terbatas pada pelemahan rupiah saat ini, tetapi juga mencakup strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Josua mengingatkan bahwa kebijakan tersebut membutuhkan waktu untuk menunjukkan dampaknya secara signifikan. “Kita perlu menilai apakah New Policy bisa mengurangi risiko pelemahan rupiah dalam jangka menengah, terutama jika ekspor Indonesia terus tumbuh dan inflasi stabil,” tegasnya. Purbaya juga menyebutkan bahwa kebijakan fiskal yang lebih terarah akan menjadi kunci untuk mendukung stabilitas nilai tukar.
Dengan adanya New Policy, pemerintah dan BI berupaya menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas mata uang. Meski terjadi pelemahan rupiah, indikator ekonomi makro menunjukkan bahwa daya tahan Indonesia masih cukup baik. Dengan strategi yang lebih komprehensif, harapan ada untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan meningkatkan kepercayaan investor asing. Kebijakan ini menjadi langkah penting dalam memastikan ekonomi Indonesia tetap bergerak positif meski menghadapi tantangan global.
