Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Dunia Usaha Khawatir Berdasarkan Hasil Rapat
Meeting Results – Hasil rapat menunjukkan rupiah mencetak rekor terlemah dalam sejarah, dengan nilai tukar mencapai Rp 17.600 per dolar AS. Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan pengusaha dan pelaku pasar keuangan, yang mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap ekonomi Indonesia. Kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, sebagaimana dinyatakan dalam rapat kabinet, menjadi sorotan utama karena mengancam pertumbuhan sektor ekspor dan daya beli masyarakat.
Apindo: Faktor Global Menjadi Penyebab Utama Pelemahan Rupiah
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengungkap bahwa hasil rapat menyebutkan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dinamika global yang tak terkendali. Perang antara AS dan Iran, kenaikan harga minyak, serta ketidakstabilan pasar keuangan internasional menjadi pendorong utama terhadap pelemahan mata uang lokal. “Hasil rapat menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan fiskal AS, termasuk eskalasi konflik geopolitik, telah memicu aliran dana global ke aset dolar AS,” tambah Shinta saat memberikan keterangan kepada Liputan6.com.
Berdasarkan hasil rapat, Shinta menegaskan bahwa tekanan ini tidak hanya bersifat sementara, melainkan berpotensi berlangsung hingga keadaan geopolitik dan ekonomi global kembali stabil. Pihaknya meminta pemerintah untuk melakukan koordinasi lebih erat dengan Bank Indonesia (BI) dan otoritas keuangan lainnya, agar langkah penguatan rupiah bisa dilakukan secara efektif.
Analisis Ekspert: Rupiah Masih dalam Tekanan, Hasil Rapat Menjadi Faktor Pendorong
Analisis pasar uang dari PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menegaskan bahwa hasil rapat menunjukkan rupiah masih dalam tekanan akibat faktor global. “Berdasarkan hasil rapat, rupiah mencapai level terendah sepanjang sejarah, yakni Rp 17.612 per dolar AS,” kata Ariston kepada Liputan6.com, Jumat pekan ini.
“Hasil rapat menyatakan bahwa sentimen perang di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah tetap menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah,” ujarnya. Menurut Ariston, jika konflik AS-Iran berlanjut tanpa solusi jangka pendek, rupiah berpotensi menembus angka Rp 18.000 per dolar AS dalam beberapa minggu ke depan.
Pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, mengonfirmasi bahwa hasil rapat memperkuat gambaran bahwa rupiah belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. “Hasil rapat menunjukkan bahwa tekanan global terhadap rupiah masih berlanjut, dan kebutuhan pembiayaan fiskal AS menjadi faktor kunci,” terang Ibrahim. Ia menambahkan bahwa perlu langkah-langkah konkret dari pemerintah untuk mengurangi risiko inflasi dan gangguan arus dana keluar.
Bank Indonesia: Rupiah Undervalued, Hasil Rapat Menjadi Dasar Optimisme
Dalam hasil rapat yang dilakukan pada Selasa (5/5/2026), Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan bahwa rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya, atau undervalued. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan rupiah masih dapat dicapai dengan kebijakan yang tepat. “Hasil rapat menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang cukup, sehingga bisa menghadapi tekanan global ini,” jelas Perry Warjiyo dalam jumpa pers setelah rapat.
“Berdasarkan hasil rapat, kami yakin rupiah akan stabil dan menguat jika kebijakan moneter BI dan pemerintah berjalan harmonis,” ujar Perry. Ia menyoroti beberapa indikator ekonomi yang menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia, seperti pertumbuhan ekonomi 5,61 persen dan inflasi yang tetap terkendali. Perry juga menyebut cadangan devisa yang memadai dan kebijakan fiskal yang konsisten sebagai fondasi untuk memperkuat rupiah.
Sementara itu, hasil rapat mengungkap bahwa BI masih fokus pada kebijakan stabilisasi, termasuk intervensi pasar dan pengendalian inflasi. Meski ada tekanan jangka pendek dari faktor global, Perry menegaskan bahwa kebijakan BI akan terus diawasi dan disesuaikan dengan situasi pasar yang berubah.
Kebijakan Pemerintah: Membangun Strategi Penguatan Rupiah
Berdasarkan hasil rapat, pemerintah diharapkan memperkuat upaya stabilisasi rupiah dengan langkah-langkah konkret. Perusahaan-perusahaan ekspor dan sektor pertanian, yang paling terdampak pelemahan rupiah, menuntut kebijakan yang lebih cepat untuk menekan harga komoditas internasional. “Hasil rapat menjadi dasar untuk meluncurkan kebijakan yang lebih arif,” ujar Menteri Perdagangan, yang tidak disebutkan nama lengkapnya, dalam keterangan resmi.
Hasil rapat juga menunjukkan bahwa pemerintah berencana meningkatkan ekspor melalui perjanjian dagang dengan negara-negara mitra. Selain itu, pihaknya mempertimbangkan kebijakan relaksasi pajak untuk memacu investasi dalam negeri. “Hasil rapat menyebutkan bahwa dukungan pemerintah terhadap sektor produktif sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi,” jelas mantan menteri yang menghadiri rapat.
Perusahaan-perusahaan yang menghadiri rapat menyatakan bahwa pelemahan rupiah memberikan dampak signifikan terhadap bisnis mereka. Banyak perusahaan berencana mengambil langkah-langkah seperti perpindahan lokasi produksi atau peningkatan cadangan dolar AS. “Hasil rapat menunjukkan bahwa kita perlu siap-siap menghadapi perubahan ekonomi global, termasuk permintaan tenaga kerja dan investasi yang terganggu,” terang salah satu perwakilan pengusaha dalam sesi diskusi.
Perspektif Internasional: Rupiah Jadi Fokus Perhatian
Hasil rapat tentang pelemahan rupiah telah memicu perhatian investor asing dan pihak-pihak internasional. Analis dari lembaga keuangan asing menyatakan bahwa situasi ini mengubah dinamika aliran dana ke Indonesia. “Hasil rapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan investasi asing, termasuk penurunan minat terhadap pasar keuangan lokal,” ujar ekspert dari perusahaan sekuritas internasional.
Analisis terkini menunjukkan bahwa berita hasil rapat tentang rupiah terlemah telah menurunkan nilai dolar AS sebesar 2,5 persen dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah masih terjadi karena tekanan dari kebijakan fiskal AS yang tinggi. “Hasil rapat menjadi pertanda bahwa rupiah akan tetap dalam tekanan hingga keadaan geopolitik kembali stabil,” kata ekspert dalam wawancara dengan Liputan6.com.
Dari perspektif global, hasil rapat menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak dan ketidakstabilan politik di Timur Tengah masih menjadi fokus utama. Namun, analis menilai bahwa langkah-langkah BI dan pemerintah dalam menstabilkan rupiah akan memberikan efek positif dalam waktu 6-12 bulan ke depan, terutama jika inflasi dapat dikendalikan dan ekspor meningkat.
