Latest Program: Batu Bara Tetap Dominasi Energi Listrik hingga 2035
Latest Program – Batu bara terus menjadi pendorong utama dalam sektor energi listrik Indonesia, menurut Program Terbaru yang diumumkan oleh PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI). Dalam wawancara dengan Antara, Kamis (21/5/2026), Anggoro Wisaksono, Kepala Satuan Perencanaan Korporat Manajemen Energi Primer PLN EPI, mengungkapkan bahwa kebutuhan energi primer akan meningkat rata-rata 5% per tahun hingga 2035. “Latest Program ini menggarisbawahi pentingnya batu bara sebagai tulang punggung pasokan listrik nasional,” jelasnya. Gas bumi dianggap sebagai energi transisi yang mendukung fleksibilitas sistem ketenagalistrikan saat EBT mulai mengisi pangsa pasar.
Strategi Penguatan Pasokan Energi Primer
Sebagai bagian dari Latest Program, PLN EPI merancang strategi komprehensif untuk memperkuat pasokan energi primer Indonesia. Fokus utamanya adalah pengembangan infrastruktur gas nasional, termasuk fasilitas gasifikasi dan proyek regasifikasi, yang akan memastikan keandalan pasokan bahan bakar. Menurut Anggoro, perencanaan ini melibatkan seluruh aspek ketenagalistrikan, dari permintaan listrik hingga keamanan pasokan bahan bakar. “Kebutuhan listrik yang diproyeksikan menjadi dasar utama pengambilan keputusan dalam pembangunan pembangkit dan jaringan infrastruktur,” tambahnya.
“Dengan Latest Program, kami menjamin pasokan energi primer tetap stabil dan berkelanjutan, terutama dalam menghadapi tantangan kenaikan permintaan listrik,” kata Anggoro.
PLN EPI juga menekankan kolaborasi global dalam mengamankan pasokan energi. Kombinasi produksi lokal dan ekspor gas menjadi pilar utama dalam menjaga ketersediaan bahan bakar. “Kolaborasi dengan partner internasional sangat vital untuk memenuhi kebutuhan energi nasional,” ujarnya. Proyek midstream gas, yang mencakup kapal pengangkut LNG dan fasilitas penyimpanan, menjadi fokus dalam menopang transisi energi secara bertahap.
Peran Batu Bara dalam Pemenuhan Energi Nasional
Batu bara, sebagai sumber energi paling andal, akan tetap menjadi komponen utama dalam memenuhi target kebutuhan listrik hingga 2035. Anggoro mengatakan, sementara EBT seperti energi surya dan angin mulai berkembang, batu bara tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem. “Latest Program ini dirancang agar keberlanjutan pasokan energi tetap terjaga meski ada pergeseran ke arah energi terbarukan,” terangnya.
“Latest Program memastikan batu bara tidak hanya sebagai pilihan saat ini, tetapi juga sebagai penyangga jangka panjang,” kata Dedy Marsetioadi, mantan wakil presiden PLN Nusantara Power.
Sebagai penyeimbang, gas bumi akan menjadi komponen kritis dalam transisi energi. PLN EPI merancang proyek-proyek gasifikasi yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. “Latest Program melibatkan pengembangan infrastruktur yang mampu mendukung kebutuhan energi saat transisi berlangsung,” tambah Hery Affandi, Vice President Pengembangan Usaha PLN Nusa Daya.
Integrasi Biomassa sebagai Alternatif Baru
Dalam upaya memperkaya sumber energi, PLN EPI juga mengintegrasikan biomassa melalui skema co-firing di beberapa PLTU. Ini dianggap sebagai peluang baru untuk meningkatkan partisipasi pengusaha muda dalam industri energi. “Latest Program mencakup inovasi seperti penggunaan biomassa, yang bisa menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil secara bertahap,” jelas Anggoro. Proyek ini diharapkan memperkuat keberlanjutan energi dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tidak terbuang.
“Biomassa bisa menjadi pilihan tambahan untuk kebutuhan listrik, terutama di daerah-daerah yang memiliki sumber daya biomassa melimpah,” ujarnya.
Keberhasilan Latest Program tergantung pada keseimbangan antara pertumbuhan EBT dan stabilitas pasokan energi. PLN EPI menekankan perlunya investasi jangka panjang dalam infrastruktur energi fosil, sementara mempercepat adopsi teknologi hijau. “Kedua aspek ini harus berjalan bersamaan agar transisi energi tidak mengganggu kebutuhan listrik masyarakat,” tambahnya.
Proyeksi Kebutuhan Listrik dan Infrastruktur
Latest Program juga mencakup proyeksi kebutuhan listrik yang semakin meningkat. Menurut Anggoro, peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan industri dan kebutuhan rumah tangga. “Kapasitas pembangkit listrik harus disesuaikan dengan proyeksi tersebut, baik melalui pengembangan batu bara maupun proyek energi terbarukan,” jelasnya. PLN EPI memperkirakan bahwa jumlah pembangkit listrik terus bertambah, termasuk penambahan unit PLTU dan pembangkit tenaga surya.
“Latest Program ini dirancang agar infrastruktur energi siap menghadapi tantangan jangka panjang, termasuk ketahanan terhadap perubahan iklim,” kata Anggoro.
Keberlanjutan pasokan energi menjadi prioritas utama dalam skema pengembangan. Dengan kapasitas regasifikasi yang mencapai 3.850 MSCFD dan penyimpanan LNG hingga 1,2 juta meter kubik, PLN EPI siap menjaga pasokan gas bumi dalam skenario terburuk. “Latest Program membantu memastikan bahwa energi listrik tetap tersedia secara konsisten hingga 2035,” pungkasnya.
