Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Facing Challenges: BRIN Kembangkan Teknologi Bakteri Ungu jadi Sumber Energi Listrik

Mark Williams 3 mins read 5 views

BRIN Berhasil Kembangkan Teknologi Energi Listrik dari Bakteri Ungu Facing Challenges - Menyongsong tantangan global dalam mencari solusi energi bersih, Badan

Facing Challenges: BRIN Kembangkan Teknologi Bakteri Ungu jadi Sumber Energi Listrik

BRIN Berhasil Kembangkan Teknologi Energi Listrik dari Bakteri Ungu

Facing Challenges – Menyongsong tantangan global dalam mencari solusi energi bersih, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan inovasi teknologi baru yang memanfaatkan bakteri ungu, Rhodobacter sphaeroides, sebagai sumber energi listrik. Teknologi ini menggabungkan prinsip fotosintesis alami dengan proses konversi energi modern, menjadi salah satu penelitian yang diharapkan mampu mengatasi kebutuhan akan keberlanjutan energi. Dengan menghadapi tantangan dalam menghasilkan energi yang efisien dan ramah lingkungan, tim BRIN menciptakan sistem fotovoltaik berbasis biologis yang menjanjikan.

Proses Konversi Energi dengan Pigmen Fotosintesis

Penelitian ini berfokus pada penggunaan pigmen fotosintesis RC-LH1 dari bakteri ungu sebagai komponen utama dalam perangkat sel surya. Menurut Perekayasa dari Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Tulus, sel fotovoltaik berbasis protein ini dirancang untuk memanfaatkan mekanisme alami fotosintesis untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik. Dengan teknologi ini, BRIN berusaha mengatasi tantangan dalam mengurangi ketergantungan pada bahan non-alamiah dalam produksi energi.

“RC-LH1 dapat berfungsi sebagai lapisan penyerap cahaya yang lebih efektif dibandingkan material sintetis tradisional,” kata Tulus dalam keterangan di Jakarta, Senin (15/6/2026), melansir Antara.

Tim peneliti menggabungkan RC-LH1 dengan lapisan semikonduktor seperti indium tin oxide (ITO), zinc oxide (ZnO), dan fullerene (C60) untuk memfasilitasi pemisahan muatan listrik. Kombinasi ini memberikan hasil konversi energi yang lebih optimal, sekaligus mengatasi tantangan dalam menciptakan sel surya berbasis biologi yang stabil dan tahan lama.

Keunggulan Teknologi Berbasis Fotosintesis

Penelitian ini mengusulkan pendekatan baru dalam pengembangan fotovoltaik, di mana proses alami fotosintesis diadaptasi untuk tujuan energi. Dalam menghadapi tantangan konvensional, bakteri ungu dipilih karena mampu menghasilkan efisiensi kuantum tinggi dan proses produksi yang ramah lingkungan. Teknologi ini tidak hanya mengatasi kebutuhan akan keberlanjutan energi, tetapi juga menawarkan solusi yang lebih sederhana dan ekonomis.

“Fotosintesis dan fotovoltaik memiliki kesamaan dalam memanfaatkan energi cahaya. Namun, fotosintesis mengubah cahaya menjadi energi kimia, sedangkan teknologi ini mengarahkan konversi langsung ke energi listrik,” jelas Tulus.

Kelompok peneliti percaya bahwa RC-LH1 menjadi bahan potensial untuk mendukung sel surya generasi ketiga, yang memanfaatkan suhu rendah dan bahan hijau. Keunggulan ini memungkinkan BRIN menghadapi tantangan dalam mengurangi emisi karbon serta meningkatkan efisiensi energi.

Kolaborasi Global untuk Meningkatkan Teknologi

Riset ini merupakan hasil kerja sama internasional antara BRIN dengan University of Bristol melalui Prof. Mike Jones serta peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam. Dengan menghadapi tantangan dalam penerapan teknologi, kolaborasi ini bertujuan mengembangkan desain sel surya yang inovatif dan mendorong transisi menuju energi bersih. Penelitian ini juga menjadi bagian dari upaya global untuk mewujudkan solusi energi yang berkelanjutan.

“Kolaborasi antarnegara memungkinkan pertukaran ide dan peningkatan kualitas teknologi. BRIN berharap ini bisa membantu menghadapi tantangan dalam produksi energi di masa depan,” tambah Tulus.

Proses penelitian melibatkan pengujian skala besar untuk memastikan stabilitas dan efisiensi teknologi. Hasil awal menunjukkan bahwa perangkat berbasis bakteri ungu mampu menghasilkan tegangan rangkaian terbuka yang sangat tinggi, menjadi salah satu capaian terbaik dalam bidang fotovoltaik padat.

Tantangan dan Prospek Penerapan

Tulus mengakui bahwa menghadapi tantangan dalam meningkatkan arus listrik dan memperbaiki efisiensi keseluruhan perangkat tetap menjadi fokus utama. Meski hasil awal menjanjikan, langkah selanjutnya melibatkan pengoptimalan struktur elektron dan penyempurnaan bahan-bahan semikonduktor untuk menjadikan teknologi ini lebih praktis. Dengan mengatasi tantangan ini, BRIN berharap teknologi ini bisa diproduksi secara massal dan digunakan dalam berbagai aplikasi.

“Kita perlu menghadapi tantangan teknis lebih lanjut untuk memastikan teknologi ini dapat bersaing dengan sistem fotovoltaik konvensional,” pungkas Tulus.

Proyek BRIN ini juga menyoroti pentingnya inovasi lokal dalam menghadapi tantangan global. Teknologi yang dikembangkan menawarkan potensi pengurangan biaya produksi dan dampak lingkungan, menjadikannya solusi yang relevan bagi Indonesia dan negara-negara lain yang sedang menghadapi kesulitan dalam mencukupi kebutuhan energi.

Gabung diskusi