Susu Tertinggal dan Celana Basah Bung Hatta di Rengasdengklok
Beberapa jam sebelum peristiwa besar itu, suasana di kediaman Sukarno yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta, terasa mencekam. Para pemuda
Ketegangan di Rengasdengklok: Insiden Susu dan Celana Basah Bung Hatta
Ketegangan di Rumah Sukarno
Beritaterbaik.com – Beberapa jam sebelum peristiwa besar itu, suasana di kediaman Sukarno yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta, terasa mencekam. Para pemuda menuntut agar Sukarno dan Hatta segera mengumumkan kemerdekaan. Saat itu, informasi mengenai kekalahan Jepang dari pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II sudah menyebar luas, meskipun belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang.
Sukarno dan Hatta memiliki perspektif yang berbeda mengenai momen ini. Keduanya sepakat bahwa kemerdekaan tidak bisa diumumkan secara sepihak. Proklamasi harus melalui proses Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang sudah dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945. Sukarno menjabat sebagai Ketua PPKI, sedangkan Hatta menjadi wakilnya.
Dalam buku “Sekitar Proklamasi”, Hatta menuliskan ingatannya:
Proklamasi Indonesia Merdeka harus ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, karena badan itu anggotanya datang dari berbagai penjuru Indonesia dan dianggap mewakili seluruh Indonesia. Esok hari, PPKI menjadwalkan rapat pada pukul 10.00.
Ancaman Wikana
Perdebatan di antara para tokoh semakin memanas. Wikana, salah satu pemimpin pemuda, memberikan peringatan keras kepada Sukarno. Ia meminta agar proklamasi segera diucapkan malam itu juga.
Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman Kemerdekaan itu malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah.
Sukarno merespons dengan tegas:
Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahi nyawa saya malam ini, jangan menunggu sampai besok.
Wikana kemudian menjelaskan bahwa ancaman tersebut bukan ditujukan untuk membunuh Sukarno. Para pemuda khawatir jika kemerdekaan tidak segera diumumkan, akan terjadi kekacauan dan kekerasan terhadap kelompok yang dianggap pro-Belanda.
Maksud kami bukan membunuh Bung, melainkan kami mau memperingatkan, apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini juga, besok rakyat kita akan bertindak dan membunuhi orang-orang yang dicurigai, yang dianggap pro Belanda, seperti orang-orang Ambon dan lain-lain.
Keputusan Membawa ke Rengasdengklok
Setelah meninggalkan rumah Sukarno, para pemuda berkumpul di Jalan Cikini 71. Mereka membahas penolakan Sukarno-Hatta. Kesimpulannya, kedua tokoh tersebut harus dibawa keluar Jakarta. Para pemuda berharap Sukarno dan Hatta dapat memimpin pergerakan dari daerah yang berada di bawah pengaruh pemuda dan tentara PETA.
Adam Malik mencatat keputusan tersebut dalam “Riwayat Proklamasi Agustus 1945”:
Putusan terhadap Bung Karno-Hatta, mereka harus dibawa menyingkir keluar kota, di daerah di mana rakyat dan tentara (PETA) siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang timbul jika proklamasi sudah dinyatakan.
Perjalanan ke Rengasdengklok
Menjelang waktu sahur, beberapa pemuda kemudian mendatangi rumah Hatta. Sukarni menyampaikan rencana membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Ia juga mengatakan para pemuda akan bergerak sendiri jika kemerdekaan tidak segera diproklamasikan. Hatta mencoba meyakinkan Sukarni bahwa rencana tersebut sulit dilakukan. Tentara Jepang masih memiliki kekuatan di Jawa.
Dengan menyerang kekuatan Jepang di Jakarta, saudara-saudara bukan melaksanakan revolusi, tapi melakukan putsch yang akan membunuh revolusi yang akan dimulai,
kata Hatta.
Namun keputusan pemuda sudah bulat.
Ini sudah menjadi keputusan kami semua dan tidak dapat dipersoalkan lagi. Bung ikut saja bersama Bung Karno, pergi ke Rengasdengklok.
Hatta akhirnya berangkat. Ia meninggalkan pesan kepada adik dan dua kemenakannya sebelum menuju rumah Sukarno. Saat tiba, Sukarno sudah siap bersama Fatmawati dan Guntur. Rombongan sempat menggunakan sedan sebelum berhenti di sebuah persimpangan. Sukarno, Hatta, Fatmawati, dan Guntur kemudian diminta pindah ke truk yang dikemudikan Iding. Alasan yang disampaikan para pemuda, sedan terlalu besar untuk melewati jalan menuju Rengasdengklok.
Hatta kemudian memahami bahwa pergantian kendaraan itu juga merupakan bagian dari siasat agar pengemudi sedan tidak mengetahui tujuan rombongan.
Insiden Kecil di Rengasdengklok
Sesampainya di Rengasdengklok, Sukarno dan Hatta dibawa ke sebuah asrama PETA. Ruangan yang mereka tempati sederhana. Lantainya terbuat dari papan, tanpa meja dan kursi, hanya terdapat tikar pandan yang biasa digunakan para prajurit untuk tidur.
Sekitar satu jam kemudian, mereka dipindahkan ke rumah milik seorang tuan tanah keturunan Tionghoa, Djiaw Kie Song. Sukarno, Hatta, Fatmawati, dan Guntur kemudian menempati rumah tersebut. Di tempat itu, waktu berjalan lambat. Hatta bahkan mengenang bahwa pekerjaan mereka saat itu salah satunya bergantian mengasuh Guntur.
Bayi tersebut sempat ingin minum susu, tetapi kaleng susu tertinggal di sedan yang telah kembali ke Jakarta. Ketika Hatta memangku Guntur, kejadian kecil terjadi. Guntur basah celananya. Insiden sederhana ini menjadi kenangan manis dalam perjalanan sejarah proklamasi Indonesia.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Susu Tertinggal dan Celana Basah Bung?
Susu Tertinggal dan Celana Basah Bung is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Susu Tertinggal dan Celana Basah Bung matter?
Susu Tertinggal dan Celana Basah Bung matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
