Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Kisah Tunanetra Taklukkan Batas hingga Sarjana

beritaterbaik - beritaterbaik.com 3 mins read

Universitas YARSI di Jakarta Pusat menjadi tempat berlangsungnya Pelatihan Strategi Pelayanan Prima yang Ramah Keberagaman Individu bagi Tenaga Kependidikan

Dua Wanita Tunanetra: Perjalanan Menuju Gelar Sarjana

Beritaterbaik.com – Universitas YARSI di Jakarta Pusat menjadi tempat berlangsungnya Pelatihan Strategi Pelayanan Prima yang Ramah Keberagaman Individu bagi Tenaga Kependidikan pada Kamis, 13 Agustus 2026. Dalam acara tersebut, dua perempuan berbagi pengalaman hidup mereka sebagai penyandang disabilitas tunanetra. Keduanya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana.

Juwita: Kehilangan Penglihatan Secara Bertahap

Juwita mengisahkan perjalanan panjangnya kehilangan penglihatan. Berbeda dengan Dani yang masih memiliki sisa penglihatan, Juwita kini mengalami kebutaan total atau totally blind. Namun, sebelum mencapai kondisi tersebut, ia juga pernah mengalami low vision.

“Saya mengalami fase penurunan penglihatan dari umur 10 tahun sampai umur 20 tahun. Pada usia 20 tahun, saya sempat low vision, namun sekarang sudah total. Pandangan saya gelap, tapi bukan hitam pekat, lebih cenderung abu-abu,” jelas Juwita.

Untuk mobilitas sehari-hari, Juwita selalu membawa tongkat lipat khusus. Ia mengakui bahwa pendampingan sangat diperlukan mengingat kondisinya yang tunanetra total. Di dalam ruangan, tongkat tersebut dapat dilipat dan disimpan di dalam tas atau di pinggir tas.

Dani: Melihat Melalui Kaca Berembun

Dari luar, Dani tampak seperti perempuan berkerudung biasa. Namun, ia merupakan penyandang tunanetra dengan penglihatan lemah. Dani menggambarkan sensasi melihat dunia seperti melalui kaca yang berembun atau tertutup plastik.

“Saya masih bisa melihat benda besar seperti meja, kursi, tas, dan laptop. Namun, untuk benda kecil dan detail, saya tidak bisa melihatnya. Wajah-wajah di sekitar saya juga tidak terlihat jelas,” cerita Dani, dikutip pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Dani masih mampu membedakan warna-warna dengan kontras kuat seperti merah dan biru. Akan tetapi, warna-warna yang mirip seperti merah cabai, marun, pink, atau cokelat muda menjadi sulit dibedakan. Penglihatannya juga menurun saat berada di tempat gelap, terutama setelah waktu magrib ketika ia hanya melihat seperti siluet.

Mengatasi Keterbatasan dengan Teknologi

Meski memiliki keterbatasan penglihatan, semangat belajar Dani dan Juwita tidak pernah padam. Keduanya memanfaatkan teknologi untuk mengikuti perkuliahan. Juwita menjelaskan penggunaan laptop dan ponsel yang dilengkapi fitur pembaca layar atau screen reader.

“Saya menggunakan laptop dengan pembaca layar saat belajar. HP saya juga sama, baik Android maupun iOS sudah memiliki pembaca layar bawaan yang tinggal diaktifkan. Untuk laptop, perlu diinstal terlebih dahulu,” ujar Juwita.

Juwita juga dapat mengakses berbagai produk Microsoft seperti PowerPoint dan dokumen PDF, asalkan materi tersebut berbentuk teks. Ia menekankan bahwa PowerPoint harus berbasis teks, bukan dari Canva yang berupa gambar. PDF juga dapat diakses, kecuali jenis PDF hasil scan yang berupa foto JPEG.

Mengubah Cara Pandang Masyarakat

Dani berharap masyarakat lebih memahami bahwa penyandang tunanetra tidak selalu memiliki mata tertutup atau tidak dapat melihat sama sekali. Dalam kasusnya, matanya tetap terbuka namun penglihatannya sangat terbatas.

“Jika ada seseorang dengan pandangan mata tidak fokus, masyarakat jangan langsung menganggapnya melamun. Bisa jadi orang tersebut penyandang tunanetra dengan kondisi low vision,” jelas Dani.

Dani pernah mengalami momen tidak nyaman saat berkuliah. Dosennya bertanya, “Kamu ngeliatin apa? Ngeliatin cicak.” Situasi menjadi canggung hingga teman di depan menjelaskan bahwa mata Dani memang demikian. Meski dosen meminta maaf, pengalaman itu membekas dalam hati Dani.

Kini, dengan bantuan teknologi dan dukungan orang lain, Dani dan Juwita membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah penghalang untuk meraih impian pendidikan tinggi.

Frequently Asked Questions

What is Kisah Tunanetra Taklukkan Batas hingga Sarjana?

Kisah Tunanetra Taklukkan Batas hingga Sarjana is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kisah Tunanetra Taklukkan Batas hingga Sarjana matter?

Kisah Tunanetra Taklukkan Batas hingga Sarjana matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi