Tren Ritel Berubah, Pengembang Pilih Fokus Bangun Ekosistem
Tren Ritel Berubah Pengembang Pilih - Sektor ritel Indonesia tengah mengalami transformasi signifikan. Pelaku bisnis kini tidak lagi hanya mengandalkan lokasi

Perubahan Paradigma Ritel: Pengembang Fokus pada Ekosistem Kawasan
Beritaterbaik.com – Sektor ritel Indonesia tengah mengalami transformasi signifikan. Pelaku bisnis kini tidak lagi hanya mengandalkan lokasi strategis atau kawasan premium untuk menarik konsumen. Faktor-faktor seperti tren terkini, dinamika aktivitas kawasan, serta kekuatan ekosistem menjadi pertimbangan utama dalam menentukan strategi ekspansi. Pergeseran ini mencerminkan perubahan industri ritel yang kini lebih berorientasi pada penyediaan pengalaman berbelanja dan interaksi sosial bagi konsumen.
Data Pasar dan Tren Sewa
Ferry Salanto, Kepala Research Services Colliers Indonesia, menjelaskan bahwa pusat perbelanjaan dan kawasan komersial kini memperkuat posisi mereka sebagai destinasi gaya hidup. Hal ini dilakukan melalui kurasi penyewa yang lebih ketat, penyelenggaraan berbagai acara, serta penyediaan ruang sosial yang tidak bisa digantikan oleh platform digital.
“Mal-mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online,” ujarnya, Minggu (2/8/2026).
Menurut data Colliers, tingkat kekosongan pusat perbelanjaan premium di Jakarta pada kuartal pertama 2026 tercatat sebesar 4,2%. Angka ini dipengaruhi oleh penutupan salah satu department store besar di Mal Kelapa Gading 1. Meskipun demikian, aktivitas penyewaan ruang ritel tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
Permintaan terutama berasal dari sektor makanan dan minuman serta merek-merek ritel mewah internasional yang terus berekspansi melalui kemitraan dengan peritel lokal. Terbatasnya pasokan mal premium baru juga mendorong kenaikan tarif sewa rata-rata sebesar 1,09% secara kuartalan pada awal 2026.
“Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha untuk lebih selektif dalam memilih lokasi serta menerapkan format gerai alternatif guna menjaga efisiensi operasional,” ujar Ferry.
Respons Pengembang: Summarecon Serpong
Perubahan preferensi pelaku usaha mulai direspons oleh sejumlah pengembang properti. Salah satunya adalah Summarecon Serpong melalui pengembangan kawasan terintegrasi Serpong CBD. Saat ini, kawasan tersebut telah dihuni lebih dari 12.000 keluarga dan didukung sekitar 2.000 unit rumah toko.
Aktivitas kawasan ditopang oleh keberadaan Summarecon Mall Serpong, SQP Hub, SQP Park, serta berbagai fasilitas lain yang membuat kawasan tetap hidup sejak pagi hingga malam hari. Albert Luhur, Executive Director Summarecon Serpong, menyatakan bahwa pelaku usaha kini lebih memperhatikan aktivitas yang terjadi di dalam suatu kawasan dibanding sekadar lokasinya.
“Sekarang pelaku usaha bukan cuma melihat apakah lokasinya strategis atau tidak. Mereka juga ingin tahu, apakah kawasannya memang hidup, apakah ada aktivitas yang terus bergerak setiap hari,” katanya.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Summarecon Serpong bersiap meluncurkan kawasan komersial Strozzi Commercial di koridor Symphonia Boulevard dengan harga mulai sekitar Rp 4 miliar. Proyek tersebut ditujukan bagi berbagai jenis usaha, mulai dari F&B, ritel, wellness, hingga layanan profesional. Setiap unit dilengkapi mezzanine serta didukung jalan dengan right of way selebar 36 meter dan 32 meter.
“Kawasan ini juga mengusung konsep double-layer parking guna meningkatkan kapasitas parkir bagi tenant maupun pengunjung,” ujar Albert.
Selain itu, kawasan ini juga dilengkapi fasilitas pendidikan, stasiun pengisian kendaraan listrik, serta berbagai fasilitas komersial lainnya yang diharapkan mampu menciptakan arus kunjungan harian secara berkelanjutan. Dengan model pengembangan kawasan yang mengintegrasikan hunian, komersial, dan fasilitas pendukung, keberlangsungan bisnis ritel dinilai kini semakin bergantung pada kekuatan ekosistem serta konsistensi aktivitas pengunjung di kawasan tersebut.
FAQ: Tren Ritel Berubah Pengembang Pilih
Apa yang menyebabkan perubahan tren ritel saat ini? Perubahan tren ritel disebabkan oleh pergeseran preferensi konsumen yang lebih mengutamakan pengalaman berbelanja dan interaksi sosial. Selain itu, keterbatasan mal premium baru juga mempengaruhi strategi pengembang dalam membangun ekosistem kawasan.
Bagaimana pengembang merespons perubahan tren ritel? Pengembang seperti Summarecon Serpong merespons dengan mengembangkan kawasan terintegrasi yang menggabungkan hunian, komersial, dan fasilitas pendukung. Pendekatan ini menciptakan aktivitas berkelanjutan sepanjang hari.
Berapa tingkat kekosongan mal premium di Jakarta? Tingkat kekosongan pusat perbelanjaan premium di Jakarta pada kuartal pertama 2026 tercatat sebesar 4,2%, dipengaruhi oleh penutupan salah satu department store besar di Mal Kelapa Gading 1.
Apa keunggulan kawasan terintegrasi bagi pelaku usaha? Kawasan terintegrasi menawarkan aktivitas yang terus bergerak setiap hari, fasilitas pendukung lengkap, serta aksesibilitas yang baik. Hal ini membuat kawasan lebih menarik bagi pelaku usaha dibandingkan lokasi konvensional.
