Key Strategy: Mentan Curhat Diserang Buzzer Soal Program Cetak Sawah Papua
Mentan: Kritik Online Tidak Menggambarkan Realita Program Cetak Sawah di Papua Key Strategy - Liputan6.com, Jakarta - Dalam kunjungan ke Desa Waninggap Kai
Mentan: Kritik Online Tidak Menggambarkan Realita Program Cetak Sawah di Papua
Key Strategy – Liputan6.com, Jakarta – Dalam kunjungan ke Desa Waninggap Kai, Distrik Semangga, Merauke, Papua Selatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa program cetak sawah di wilayah tersebut merupakan salah satu Key Strategy pemerintah dalam mendorong kemandirian pangan nasional. Selama kunjungan hari Sabtu (4/7/2026), Amran berbicara langsung dengan petani setempat, Yohanis Yandi, yang menyampaikan keinginan untuk melanjutkan peningkatan luas lahan sawah sebesar 2.000 hektare. “Jika ada yang mengkritik di media sosial, saya siap berbicara,” ujarnya dengan nada santai.
Program Cetak Sawah dan Tanggapan Terhadap Kritik
Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa kritik dari buzzer di platform TikTok terhadap program cetak sawah di Papua tidak mencerminkan situasi di lapangan. Menurutnya, banyak petani yang justru mendukung inisiatif ini karena telah merasakan peningkatan kesejahteraan. “Program ini milik rakyat, milik putra-putri asli Papua. Jangan ada yang mengatasnamakan masyarakat mengatakan tidak setuju, karena pendapatan masyarakat naik hingga 300 persen. Bahkan kini mereka meminta tambahan area sawah,” tegas Amran. Ia menegaskan bahwa Key Strategy ini dirancang untuk memastikan manfaat ekonomi dan sosial benar-benar dirasakan oleh masyarakat setempat.
“Kritik online seringkali hanya bersifat emosional, sedangkan fakta di lapangan menunjukkan bahwa program cetak sawah di Papua berjalan positif,” tambah Amran. Ia mengungkapkan bahwa Key Strategy ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif, sehingga masyarakat bisa ikut serta dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaannya.
Progres Pengembangan Kawasan Produksi Pangan
Hingga 2026, luas area cetak sawah dan optimalisasi lahan di Papua Selatan mencapai sekitar 100 ribu hektare. Total cetak sawah di seluruh Tanah Papua telah mencapai 83.030 hektare, sementara optimalisasi lahan mencapai 54.399 hektare. Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, menegaskan bahwa lebih dari separuh program cetak sawah berada di Merauke. “Ini membuktikan bahwa Merauke menjadi pusat pengembangan pangan di Tanah Papua,” ujarnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa Key Strategy dalam program ini telah memberikan dampak signifikan pada peningkatan produksi pangan.
Apolo Safanpo juga menyampaikan komitmen daerah untuk mendukung pengembangan kawasan pangan. Ia berharap Merauke tidak hanya menjadi lumbung pangan lokal, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan nasional bahkan menjadi penghasil beras. Dengan indikator pertanaman yang meningkat dari 1,05 menjadi 1,82–2,00, serta kenaikan pendapatan petani, program ini mulai menunjukkan hasil nyata. Key Strategy ini diterapkan melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat setempat untuk menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan.
Tantangan dan Solusi dalam Implementasi Key Strategy
Pada kesempatan tersebut, Amran juga menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam program cetak sawah. Menurutnya, salah satu hambatan utama adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan manfaat jangka panjang dari program ini. Untuk mengatasinya, Key Strategy yang digunakan melibatkan edukasi dan sosialisasi secara aktif kepada petani. “Kami tidak hanya memberikan lahan, tetapi juga pelatihan teknologi pertanian modern yang sebelumnya digunakan negara-negara maju,” katanya.
Key Strategy ini mencakup pemberian alat pertanian, benih unggul, infrastruktur irigasi, serta pendampingan oleh petugas lokal. Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, petani di Papua diberi kesempatan untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan lingkungan. Amran menekankan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara pertanian intensif dan pertanian berkelanjutan, yang menjadi fokus utama dari strategi pembangunan pangan nasional.
“Mereka yang mengkritik sebenarnya masih belum memahami manfaat Key Strategy ini. Saya yakin, jika melihat data dan bukti di lapangan, program cetak sawah akan menjadi solusi untuk mengatasi ketergantungan pangan,” tutur Amran. Ia menambahkan bahwa Key Strategy ini tidak hanya terfokus pada luas lahan, tetapi juga pada kualitas hasil pertanian dan keberlanjutan ekosistem.
Peran Teknologi dalam Mendorong Key Strategy
Amran menjelaskan bahwa penggunaan teknologi pertanian menjadi bagian penting dari Key Strategy ini. Dengan penerapan sistem irigasi modern dan alat bantu pertanian, produksi pangan di Papua meningkat secara signifikan. Pemerintah juga memberikan pelatihan teknis kepada petani agar mereka mampu mengelola lahan secara efisien. “Teknologi yang kita bawa ke sini tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga mengurangi risiko gagal panen,” ujarnya.
Program ini diharapkan bisa menjadi contoh sukses dalam penerapan Key Strategy pembangunan pertanian di wilayah daerah tertinggal. Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, Key Strategy cetak sawah di Papua bisa menjadi salah satu model yang dapat diadopsi di daerah lain. Amran menegaskan bahwa pemerintah terus memantau dan menyesuaikan strategi ini agar sesuai dengan dinamika lokal dan kebutuhan masyarakat.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
