Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Solving Problems: Wamendagri Ungkap Bekal yang Harus Dimiliki Generasi Muda

James Brown 3 mins read 4 views

Wamendagri: Generasi Muda Butuh Karakter yang Kuat dan Kemampuan Menyelesaikan Masalah Solving Problems - Dalam sebuah acara penting yang diadakan di

Solving Problems: Wamendagri Ungkap Bekal yang Harus Dimiliki Generasi Muda

Wamendagri: Generasi Muda Butuh Karakter yang Kuat dan Kemampuan Menyelesaikan Masalah

Solving Problems – Dalam sebuah acara penting yang diadakan di Mangkuluhur ARTOTEL Suites pada Sabtu (13/6/2026), Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menyoroti pentingnya mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah pada generasi muda sebagai bekal untuk menghadapi tantangan zaman modern. Menurutnya, nilai-nilai budaya, moral, dan kebangsaan tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga menjadi fondasi untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah secara efektif. Ia menegaskan bahwa di tengah dinamika perubahan yang cepat, generasi muda perlu memiliki kekuatan mental dan kemampuan kritis agar bisa mengatasi berbagai masalah dengan solusi yang inovatif.

“Peradaban besar didukung oleh pengetahuan dan dijaga oleh karakter. Karena itu, tugas kita saat ini adalah fokus membangun kekuatan karakter serta mengembalikan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur. Kemampuan menyelesaikan masalah tidak akan berarti apa-apa jika tidak diimbangi dengan kejujuran dan tanggung jawab,” ujarnya.

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Muda

Bima Arya Sugiarto menjelaskan bahwa kemajuan sebuah negara tidak hanya bergantung pada kemampuan akademik, tetapi juga pada integritas dan sikap moral individu. Dalam era digital yang kini sangat mendominasi, generasi muda harus mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih holistik, tidak hanya melalui teknologi tetapi juga dengan prinsip-prinsip nilai budaya yang telah diakarikan. Ia menyoroti peran media sosial dalam menyebarkan informasi cepat, namun tanpa selalu disertai proses penyaringan yang matang. “Masyarakat saat ini menghadapi banyak masalah kompleks, dan untuk mengatasinya, generasi muda harus dibekali dengan cara berpikir yang kritis, kebijaksanaan, dan etika yang kuat,” tambahnya.

Dalam wawancara, Bima menekankan bahwa pendidikan formal dan kompetensi teknis saja tidak cukup. Karakter dan integritas harus dikembangkan sejajar dengan penguasaan pengetahuan, agar muncul pemimpin yang berkualitas dan mampu menyelesaikan masalah secara tangguh. Ia menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual tidak akan berarti apa-apa tanpa dasar moral yang kuat. “Kemampuan menyelesaikan masalah adalah kunci untuk mengubah tantangan menjadi peluang, terutama dalam menghadapi dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang terus berkembang,” lanjutnya.

Kosmopolitanisme Budaya Melayu dan Kemampuan Menyelesaikan Masalah

Bima juga meminta generasi muda untuk memiliki wawasan global sambil menjaga akar budaya dan identitas kebangsaan. “Melayu adalah contoh bangsa yang bisa menjelajahi dunia sambil tetap berlandaskan budaya lokal, berpikir nasional, dan bertindak internasional,” katanya. Menurutnya, nilai-nilai budaya Melayu yang kaya telah menghasilkan tokoh-tokoh besar seperti Raja Ali Haji dan Buya Hamka, yang tetap relevan dalam membentuk karakter generasi muda di tengah dinamika zaman modern. Upaya ISMI, menurut Bima, menjadi penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut melalui kegiatan edukatif dan pengembangan pemikiran yang melibatkan kemampuan menyelesaikan masalah.

Ia menjelaskan bahwa tradisi intelektual Melayu telah membentuk kemampuan menyelesaikan masalah yang berbasis pada kebijaksanaan dan keadilan. Dalam konteks ini, nilai-nilai seperti gotong royong, kejujuran, dan kesetiaan pada tujuan kolektif menjadi bekal penting. “Kemampuan menyelesaikan masalah yang dimiliki generasi muda tidak bisa terpisah dari kemampuan berkomunikasi, kolaborasi, dan beradaptasi dengan lingkungan yang berubah,” jelasnya.

Bima Arya Sugiarto menambahkan bahwa pendidikan karakter yang diberikan kepada generasi muda harus mencakup pelatihan dalam mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, dan mengambil keputusan yang bijaksana. Ia menyoroti bahwa di era digital, masalah sosial dan ekonomi sering kali menyebar dengan cepat, sehingga keterampilan menyelesaikan masalah menjadi lebih penting daripada sebelumnya. “Kita harus memastikan bahwa mereka tidak hanya mampu menyelesaikan masalah di lingkungan sekolah, tetapi juga di masyarakat, baik secara individu maupun kolektif,” imbuhnya.

Dalam menjelaskan peran budaya dalam pembentukan karakter, Bima menyebutkan bahwa kebudayaan Melayu memiliki kekuatan untuk membentuk kemampuan menyelesaikan masalah yang tidak hanya lokal tetapi juga internasional. Ia menegaskan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menyelesaikan masalah dengan solusi yang berkelanjutan dan inklusif. “Mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah harus diimbangi dengan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, agar tidak hanya terfokus pada keuntungan individu tetapi juga kesejahteraan bersama,” tuturnya.

Menurut Bima, proses pendidikan yang efektif harus mendorong generasi muda untuk tidak hanya menghafal pengetahuan, tetapi juga mempraktikkan kemampuan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyoroti bahwa dalam menghadapi tantangan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, kemampuan menyelesaikan masalah akan menjadi faktor penentu keberhasilan. “Kita perlu memastikan bahwa mereka memiliki dasar moral yang kuat, karena itu akan menjadi penopang utama dalam memecahkan berbagai masalah yang muncul di masa depan,” pungkasnya.

Gabung diskusi