Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Bisnis

Main Agenda: BI Pastikan Cadangan Devisa Masih Kuat Jaga Rupiah

James Brown 3 mins read 4 views

BI Pastikan Cadangan Devisa Masih Kuat Jaga Rupiah Main Agenda - Sebagai bagian dari Main Agenda yang diusung Bank Indonesia (BI) dalam menghadapi tantangan

Main Agenda: BI Pastikan Cadangan Devisa Masih Kuat Jaga Rupiah

BI Pastikan Cadangan Devisa Masih Kuat Jaga Rupiah

Main Agenda – Sebagai bagian dari Main Agenda yang diusung Bank Indonesia (BI) dalam menghadapi tantangan ekonomi global, pihak bank sentral menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia tetap dalam kondisi stabil dan memadai untuk mendukung nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dalam rapat kerja bersama DPR RI, Senin (18/5/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa cadangan devisa nasional masih kuat, sehingga BI dapat terus melakukan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas mata uang dalam negeri. Hal ini menjadi fokus utama Main Agenda BI dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan yang terus meningkat.

Strategi BI dalam Stabilisasi Rupiah

BI telah meningkatkan upaya intervensi di pasar valuta asing sebagai respons terhadap tekanan yang terjadi terhadap rupiah. Berbagai instrumen seperti pasar spot, lindung nilai, dan transaksi forward diterapkan untuk mengatur aliran modal dan memperkuat posisi tukar rupiah. Perry menekankan bahwa dengan cadangan devisa yang memadai, BI mampu menjaga keseimbangan pasar meski di tengah ketidakpastian ekonomi global. “Main Agenda kami adalah memastikan cadangan devisa tetap kuat, sehingga bisa menjadi penyangga dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar,” jelasnya.

Peningkatan bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi 6,41 persen juga menjadi bagian dari Main Agenda BI. Langkah ini bertujuan untuk menarik lebih banyak arus modal asing ke dalam negeri, yang berdampak langsung pada pasokan valuta asing di pasar. Dengan bunga yang lebih menarik, BI mengharapkan investor tetap mempercayai rupiah sebagai aset investasi. Hingga 18 Mei 2026, arus modal bersih melalui SRBI mencapai USD 105,16 miliar, menunjukkan efektivitas strategi yang dijalankan.

“Main Agenda kami jelas dalam meningkatkan cadangan devisa. Kami sudah pastikan bahwa cadangan ini masih kuat, sehingga dosis intervensinya bisa kami naikkan,” ujar Perry. Ia menambahkan bahwa BI terus memantau kondisi pasar dan menyesuaikan kebijakan sesuai kebutuhan ekonomi.

Dalam konteks Main Agenda, BI juga mengambil langkah untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Salah satu caranya adalah dengan mendorong penggunaan mata uang yuan dalam transaksi domestik. Gubernur BI menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan memperkaya diversifikasi alat tukar, sehingga mengurangi permintaan dolar AS dan meningkatkan daya tahan rupiah terhadap tekanan eksternal. “Main Agenda kami jangan hanya fokus pada rupiah, tetapi juga memperkuat posisi ekonomi nasional secara menyeluruh,” tuturnya.

Berikutnya, BI menerapkan pembatasan pembelian dolar AS tunai di pasar dalam negeri. Mulai Juni 2026, batas maksimal per pelaku per bulan diturunkan dari USD 50 ribu menjadi USD 25 ribu. Perry menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan mengarahkan arus dana ke sektor produktif dan mengurangi spekulasi yang berpotensi merusak stabilitas nilai tukar. “Main Agenda ini tidak hanya tentang menjaga rupiah, tetapi juga mengoptimalkan penggunaan cadangan devisa untuk kebutuhan yang lebih strategis,” imbuhnya.

Analisis Ekonomi Global dan Dampak pada Rupiah

Perry menyampaikan bahwa kinerja cadangan devisa Indonesia tidak hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dari efektivitas penggunaannya dalam menopang pertumbuhan ekonomi. BI terus memantau pergerakan suku bunga internasional, terutama dari negara-negara berkembang, serta mengevaluasi risiko kenaikan inflasi yang bisa berdampak pada nilai tukar rupiah. “Main Agenda kami mencakup pengelolaan cadangan devisa secara bijak untuk menjaga daya beli rakyat dan pertumbuhan ekspor,” tambahnya.

Dengan penguatan cadangan devisa dan kebijakan intervensi yang tepat, BI yakin stabilitas nilai tukar rupiah bisa terjaga dalam jangka panjang. Perry menegaskan bahwa keberhasilan Main Agenda ini bergantung pada koordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk otoritas moneter internasional dan pemerintah. “BI tidak berdiri sendiri dalam menjaga kekuatan rupiah, tetapi berkolaborasi dengan seluruh pihak untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional,” pungkasnya. Langkah-langkah ini diharapkan bisa memberikan kepastian bagi investor dalam dan luar negeri serta memperkuat kepercayaan publik terhadap rupiah sebagai mata uang yang stabil.

Gabung diskusi