Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Sosok KH Miftachul Akhyar yang Kembali Terpilih Jadi Rais Aam PBNU

wpmanadmin - beritaterbaik.com 4 mins read

Keputusan strategis keluar dari ruang tertutup Ndalem Kasepuhan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Minggu malam (30/8/2026)

Sosok KH Miftachul Akhyar yang Kembali Terpilih Jadi Rais Aam PBNU

KH Miftachul Akhyar Kembali Menahkodai Syuriyah NU untuk Lima Tahun ke Depan

Beritaterbaik.com – Keputusan strategis keluar dari ruang tertutup Ndalem Kasepuhan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Minggu malam (30/8/2026). Sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) — dewan tertinggi pengambilan keputusan dalam struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama — sepakat secara mufakat untuk kembali mempercayakan posisi Rais Aam Pengurus Besar NU kepada KH Miftachul Akhyar. Masa khidmat yang akan diemban adalah 2026 hingga 2031, menandai kelanjutan kepemimpinan yang sudah ia jalani sejak periode sebelumnya.

Penunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, forum tertinggi organisasi yang mempertemukan jutaan anggota dari seluruh penjuru Indonesia. Dalam konteks organisasi, Rais Aam bukan sekadar jabatan administratif; ia merupakan figur otoritas tertinggi di bidang fatwa, kebijakan keagamaan, dan arah ideologis NU. Peran ini menuntut kedalaman keilmuan, rekam jejak panjang dalam tradisi pesantren, serta kemampuan menjembatani aspirasi jutaan santri dan warga NU di tingkat akar rumput.

Musyawarah Tertutup dan Mufakat AHWA

Proses pemilihan Rais Aam tidak dilakukan melalui voting terbuka. Sesuai tata tertib organisasi, sembilan anggota AHWA menggelar musyawarah tertutup hingga tercapai mufakat penuh. Tidak ada mekanisme mayoritas; keputusan hanya sah ketika seluruh sembilan suara menyatu. Proses ini berlangsung di lingkungan pesantren Bahrul Ulum, yang selama bertahun-tahun menjadi episentrum kegiatan keagamaan dan organisasi NU di Jawa Timur.

Hasil musyawarah kemudian dibacakan dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU. KH Anwar Iskandar, yang menyampaikan keputusan tersebut kepada peserta sidang, menyatakan:

“Setelah melakukan musyawarah tertutup anggota Ahlul Halli wal Aqdi secara mufakat, bahwa nama KH Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam Pengurus Besar Masa Khidmat 2026-2031.”

Pernyataan singkat itu mengakhiri proses deliberasi yang berlangsung di balik pintu tertutup dan mengukuhkan kembali posisi KH Miftachul Akhyar di puncak struktur Syuriyah NU untuk satu dekade penuh — dua periode berturut-turut.

Akar Keluarga dan Pendidikan Pesantren

KH Miftachul Akhyar lahir pada 30 Juni 1953 di Surabaya, Jawa Timur. Ia anak kesembilan dari tiga belas bersaudara dalam keluarga yang berlatar belakang pesantren. Ayahnya, KH Abdul Ghoni, mengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq di kawasan Rangkah, Surabaya — sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah lama menjadi rujukan masyarakat Madura dan Jawa Timur.

Tumbuh di lingkungan yang menjadikan kitab kuning dan praktik keagamaan sebagai napas harian, KH Miftachul Akhyar menempuh jalur pendidikan pesantren secara bertahap. Ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang, kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Langkah berikutnya membawanya ke Pondok Pesantren Al-Anwar Lasem di Sarang, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai pusat kajian fikih dan ushul fiqh dalam tradisi NU.

Di luar kurikulum pesantren formal, ia juga mengikuti majelis taklim yang dipimpin Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al Maliki di Malang. Pada masa itu, sang ulama asal Hadramaut masih aktif mengajar di Indonesia, sehingga kesempatan belajar langsung dari beliau menjadi bagian langka dari formasi keilmuannya.

Jejak Kepengurusan: Dari Tingkat Kota hingga Nasional

Keterlibatan KH Miftachul Akhyar dalam struktur organisasi NU tidak dimulai dari puncak. Ia menapaki tangga kepengurusan secara bertahap, dimulai dari level lokal hingga nasional.

Peran pertamanya yang tercatat adalah sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya untuk periode 2000–2005. Dari sana, ia naik ke tingkat provinsi dengan menjabat Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode beruntun: 2007–2013 dan 2013–2018. Jawa Timur, sebagai basis terbesar NU secara jumlah anggota, menjadikan posisi tersebut salah satu yang paling berpengaruh dalam peta politik keagamaan nasional.

Di level Pengurus Besar, ia terlebih dahulu menduduki posisi Wakil Rais Aam PBNU pada periode 2015–2020. Ketika KH Ma’ruf Amin — yang kemudian terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia — meninggalkan jabatan Rais Aam, KH Miftachul Akhyar diangkat sebagai Pelaksana Tugas Rais Aam PBNU untuk sisa masa jabatan 2018–2020. Pengalaman transisi tersebut mengukuhkan kredibilitasnya di mata AHWA sebelum akhirnya ia resmi menjabat Rais Aam PBNU periode 2021–2026.

Implikasi Kepemimpinan untuk 2026–2031

Keputusan AHWA untuk kembali mempercayakan posisi ini kepada KH Miftachul Akhyar membawa konsekuensi strategis bagi arah kebijakan NU dalam lima tahun ke depan. Organisasi dengan jutaan anggota, ribuan pesantren, dan jaringan sosial yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat membutuhkan figur yang telah memahami dinamika internal organisasi secara mendalam. Kontinuitas kepemimpinan di posisi Rais Aam dinilai penting untuk menjaga konsistensi fatwa, stabilitas hubungan dengan pemerintah, serta kohesi internal di tengah tantangan sosial-politik yang terus berubah.

Periode 2026–2031 juga akan menempatkan NU dalam konteks transformasi digital, dinamika generasi muda pesantren, serta pergeseran lanskap politik nasional. Pengalaman panjang KH Miftachul Akhyar — dari ruang kelas pesantren hingga ruang sidang organisasi tingkat nasional — menjadi modal yang dianggap krusial oleh AHWA dalam menghadapi kompleksitas tersebut. Mufakat sembilan anggota dewan tertinggi NU, tanpa satu pun suara yang berbeda, menegaskan bahwa kepercayaan terhadap figur ini bukan sekadar pilihan politik internal, melainkan konsensus keilmuan dan organisasional yang telah teruji selama lebih dari dua dekade.

Frequently Asked Questions

What is Sosok KH Miftachul Akhyar yang Kembali?

Sosok KH Miftachul Akhyar yang Kembali is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sosok KH Miftachul Akhyar yang Kembali matter?

Sosok KH Miftachul Akhyar yang Kembali matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi