Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
News

Solution For: Uang Parkir Ojol di Mal Dibebankan ke Konsumen

James Gonzalez 4 mins read 4 views

n Biaya Parkir ke Konsumen Solution For - Jakarta, Liputan6.com - Dalam beberapa kasus, pengemudi ojek online sering menambahkan biaya parkir mall ke total

Solution For: Uang Parkir Ojol di Mal Dibebankan ke Konsumen

Driver Ojol Terpaksa Bebankan Biaya Parkir ke Konsumen

Solution For – Jakarta, Liputan6.com – Dalam beberapa kasus, pengemudi ojek online sering menambahkan biaya parkir mall ke total pesanan makanan yang diatur melalui aplikasi. Hal ini berlaku selama mereka tidak mendapat fasilitas parkir gratis dari pengelola pusat perbelanjaan. Salah satu konsumen yang sering mengalami hal ini adalah Raynald, warga Jakarta Timur. Ia mengungkapkan bahwa saat memesan makanan di mal, banyak pengemudi ojol meminta tambahan uang parkir hingga Rp 2.000. Meski pengelola mall sebagian besar menyediakan parkir gratis, ada situasi di mana biaya ini tetap diberikan.

Biaya Parkir Sebagai Bagian dari Harga Pesanan

Berdasarkan pengalaman Raynald, uang parkir biasanya diberikan setelah pesanan selesai diantar. Meski aplikasi memberikan diskon untuk ongkos pengiriman, biaya parkir tetap menjadi tanggung jawab pemesan. “Biasanya setelah pesanan sampai, saya kasih uang parkir Rp 2.000,” ujar Raynald kepada Liputan6.com, Minggu (17/5/2026). Uang ini dibayarkan secara tunai, namun sebagian besar driver memilih menambahkan nominalnya melalui fitur tip di aplikasi. Hal ini menimbulkan keluhan dari konsumen yang tidak menyadari bahwa uang parkir termasuk dalam pembayaran tambahan.

“Biasanya setelah pesanan sampai, saya kasih uang parkir Rp 2.000,” ujar Raynald.

Banyak konsumen merasa bingung karena mereka hanya fokus pada biaya antar-jemput. Nanang, seorang pengemudi ojol, mengungkapkan bahwa beberapa driver sengaja membebankan biaya parkir ke customer, meski secara sebenarnya mal justru menyediakan fasilitas gratis. “Setahu saya, kalau parkir yang liar biasanya malah tukang parkirnya enggak minta duit ke driver ojol,” katanya. Kebiasaan ini terjadi karena driver tidak ingin rugi akibat pengeluaran pribadi untuk biaya parkir.

Beberapa Driver Menyalahkan Konsumen

Dalam beberapa kejadian, pengemudi ojol menyalahkan konsumen atas biaya parkir yang dibebankan. Meski sebagian besar konsumen memahami bahwa ini adalah keharusan, ada yang menolak karena merasa tidak ada informasi jelas sebelum memesan. “Bukan tidak mau membayarnya, tapi seringkali biaya parkir harus menombok sendiri. Karena biaya parkir menjadi tanggung jawab customer,” kata Rizki, pengemudi ojol lainnya. Ia mengakui bahwa pengalaman ini sering memicu perdebatan dengan pelanggan.

Kebiasaan ini terutama ditemui di mal-mal yang tidak memiliki kebijakan spesifik tentang parkir ojol. Beberapa pengemudi mencoba menghindari konflik dengan menyampaikan biaya parkir melalui aplikasi. Namun, ada juga yang langsung meminta uang tunai, terutama saat perjalanan memakan waktu lama atau jalur parkir terbatas. Nanang mengungkapkan bahwa beberapa driver terkena sanksi karena memanfaatkan fasilitas parkir gratis tanpa alasan yang jelas. “Akun mereka dibanned,” singkat Nanang yang biasa mangkal di Mal Kota Kasablanka.

Fasilitas Parkir Khusus untuk Driver Ojol

Melalui pengamatan, beberapa mall besar di Jakarta Selatan, seperti Mal Kota Kasablanka, menyediakan area parkir khusus untuk pengemudi ojol. Fasilitas ini, yang dikenal sebagai Shelter Grab, dirancang untuk memudahkan mobilitas driver. Selain ruang parkir dan tempat penitipan motor, Shelter Grab juga dilengkapi toilet, tempat duduk, stop kontak, serta air minum. Hal ini memastikan driver bisa bersantai sejenak dan mengisi daya baterai sepeda motornya.

Keamanan di Shelter Grab juga menjadi perhatian khusus. CCTV ditempatkan di beberapa sudut untuk memantau aktivitas pengemudi. Nanang, salah satu driver yang bertugas sebagai penjaga, mengatakan bahwa shelter ini dibangun langsung oleh perusahaan ojol, bukan oleh pengelola mal. “Yang enggak ojol yang enggak umum pokoknya yang parkir di jalan kan diangkut semua. Yang di halte-halte itu diangkut semua,” tambah Nanang. Dengan adanya shelter, driver tidak perlu khawatir dengan biaya tambahan parkir.

Pengelolaan Parkir yang Lebih Terstruktur

Nanang menjelaskan bahwa di area shelter, pengemudi ojol diberikan atribut khusus, seperti jaket, agar terlihat profesional. Hal ini dilakukan untuk mencegah penggunaan fasilitas parkir secara sembarangan. “Para pengemudi diwajibkan memakai atribut, minimal jaket,” ujar Nanang. Cara ini membantu mengurangi kemungkinan oknum nakal yang hanya memanfaatkan parkir gratis tanpa berkontribusi dalam aktivitas pengantaran.

Di samping itu, keberadaan shelter juga memberikan keuntungan besar bagi driver. Terutama setelah beberapa pekan terakhir petugas Dishub aktif menyisir pemotor yang parkir sembarangan. Dengan adanya area khusus, driver tidak lagi terjebak dalam kekacauan lalu lintas. Nanang menambahkan bahwa parkir di halte adalah solusi terbaik untuk menghindari sanksi dari pihak Dishub. “Karena itu, ketersediaan tempat parkir bagi ojol sangat berarti bagi mereka,” ujarnya.

Dari sudut pandang konsumen, adanya biaya parkir dalam pesanan bisa meningkatkan kecepatan pemesanan. Namun, sebagian besar pelanggan merasa tidak adil karena biaya ini tidak dijelaskan secara jelas di awal. “Seringkali konsumen hanya fokus pada harga makanan dan antar-jemput, tanpa menyadari adanya uang parkir,” kata Rizki. Hal ini menyebabkan perasaan tertipu atau tidak transparan dalam transaksi.

Sebagai solusi, pengelola mall perlu memberikan petunjuk lebih jelas mengenai biaya parkir. Selain itu, penggunaan aplikasi yang mengintegrasikan biaya parkir ke dalam sistem pembayaran bisa mengurangi risiko perdebatan. Nanang menyarankan bahwa perusahaan ojol sebaiknya memperketat pengawasan di area parkir. “Selama ada driver yang nakal, fasilitas ini tetap bisa dimanfaatkan untuk memperkuat regulasi,” katanya. Dengan perubahan ini, pengalaman konsumen dan driver bisa lebih harmonis, sekaligus mengurangi konflik di lapangan.

Pentingnya Edukasi dan Transparansi

Kebiasaan membebankan biaya parkir ke konsumen menggarisbawahi perlunya edukasi bagi pelanggan. Pengemudi ojol seringkali merasa bingung karena biaya parkir tidak termasuk dalam ongkos antar-jemput. “Kalau parkir yang liar biasanya malah tukang parkirnya enggak minta duit ke driver ojol,” ujar Nanang. Oleh karena itu, perusahaan ojol sebaiknya menyediakan informasi transparan agar konsumen bisa memahami biaya yang dikenakan.

Kebiasaan ini juga memicu perdebatan yang tidak perlu. Rizki mengungkapkan bahwa dalam beberapa kasus, pelanggan menuduh driver hanya ingin cari untung karena meminta uang parkir. “Tapi yang benar adalah kita harus membayar biaya parkir karena itu adalah bagian dari pengantaran,” kata Rizki. Dengan kejelasan informasi, konsumen bisa lebih terbuka dalam membayar biaya tambahan tersebut.

Gabung diskusi