Tabur Bunga dan Penghormatan Terakhir Keluarga untuk 5 Jurnalis dan Kru Kapal
Keluarga Lepas Doa dan Bunga untuk Delapan Orang yang Hilang di Selat Sunda
Beritaterbaik.com – Suasana duka menyelimuti pantai di sekitar Dermaga Pegedongan, Banten, Jumat (18/9/2026). Keluarga dari lima jurnalis serta tiga kru kapal yang belum ditemukan di perairan Selat Sunda berkumpul untuk menggelar prosesi tabur bunga. Kegiatan itu berlangsung setelah pencarian gabungan selama sepuluh hari resmi dihentikan.
Dermaga Pegedongan memiliki arti mendalam bagi keluarga yang hadir. Dari lokasi inilah delapan orang tersebut berangkat pada Senin, 7 September 2026, menggunakan speedboat Arupadhatu 1. Kini, tepian pantai itu menjadi tempat keluarga menyampaikan penghormatan, doa, dan harapan bagi orang-orang yang belum kembali.
Beragam jenis bunga dibawa ke lokasi. Dengan pandangan mengarah ke hamparan Selat Sunda, keluarga berdiri dalam diam sebelum menundukkan kepala dan memanjatkan doa. Setelah itu, bunga-bunga dilepaskan ke laut sebagai simbol kasih, penghormatan, serta harapan agar para jurnalis dan awak kapal segera ditemukan.
Harapan yang Tetap Dijaga Keluarga
Prosesi tersebut berlangsung penuh emosi. Tangisan terdengar di antara anggota keluarga yang telah menunggu kabar selama berhari-hari. Sejumlah kerabat tampak tak mampu menahan air mata setelah menerima keputusan penghentian operasi pencarian.
Di antara nama yang masih dicari terdapat jurnalis foto Merdeka.com, Arie Basuki. Bersama empat jurnalis lain dan tiga kru speedboat Arupadhatu 1, ia hilang kontak saat perjalanan di kawasan Selat Sunda.
Bagi keluarga, tabur bunga bukan berarti mengakhiri pengharapan. Momen itu justru menjadi cara untuk terus mengiringi mereka dengan doa, sekaligus mengenang keberangkatan yang berawal dari dermaga tersebut. Laut yang terbentang di hadapan mereka menjadi saksi kesedihan sekaligus keteguhan keluarga untuk tetap menanti kabar baik.
Acara penghormatan terakhir itu turut dihadiri CEO KLY Dian Gemiano, CFO KLY Octaviany Sarimawan, CCO KLY Wenseslaus Manggut, Pemimpin Redaksi Liputan6.com Titis Widyatmoko, serta Pemimpin Redaksi Merdeka.com Wisnoe Moerti.
Pencarian Dihentikan Setelah Evaluasi Sepuluh Hari
Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru speedboat dihentikan setelah evaluasi dilaksanakan Tim SAR Gabungan. Keputusan itu diambil menyusul pencarian yang berlangsung sejak hilangnya kontak dengan Arupadhatu 1 pada 7 September 2026.
Rapat evaluasi dilakukan pada Kamis (17/9/2026) pukul 17.00 WIB di Posko SAR Nasional, Carita, Pandeglang. Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan bahwa sejumlah material sempat ditemukan selama operasi, tetapi seluruh temuan itu tidak memiliki keterkaitan dengan speedboat yang dicari.
“Bahwa kemudian ada beberapa temuan material atau objek. Catatan ada 13 objek yang ditemukan selama operasi dan itu sudah dikonfirmasi oleh unsur. Setelah dikonfirmasi, di-cross check, dan diteliti, dinyatakan saat ini tidak terhubung dengan Arupadhatu 1,” kata Andra Soni kepada wartawan, Kamis (17/9/2026).
Selama operasi berlangsung, tercatat 13 objek ditemukan. Pemeriksaan lanjutan telah dilakukan terhadap temuan-temuan tersebut, namun tidak ada yang dapat dikaitkan dengan Arupadhatu 1 ataupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Evaluasi juga menyimpulkan bahwa pelaksanaan pencarian tidak lagi efektif. Kondisi itu membuat operasi gabungan harus diakhiri, meski keputusan tersebut diterima dengan berat oleh keluarga dan seluruh pihak yang terlibat.
“Maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini oleh pihak yang berkepentingan, pihak yang memiliki kewenangan dinyatakan dihentikan,” ungkapnya.
Peluang Pencarian Kembali Tetap Ada
Penghentian operasi tidak menutup kemungkinan pencarian dibuka kembali. Andra Soni menegaskan bahwa upaya SAR dapat dilanjutkan apabila muncul informasi, tanda, atau petunjuk baru yang berkaitan dengan keberadaan para korban maupun speedboat Arupadhatu 1.
Hal tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang. Dalam situasi pencarian orang hilang di perairan, setiap petunjuk yang dapat diverifikasi berpotensi membantu memperbarui arah penelusuran.
Bagi keluarga, keputusan penghentian pencarian menjadi pukulan berat setelah sepuluh hari menanti kepastian. Namun doa yang dipanjatkan di Dermaga Pegedongan memperlihatkan bahwa harapan belum benar-benar padam. Bunga yang hanyut di perairan Selat Sunda menjadi penanda penghormatan bagi delapan orang yang belum ditemukan, sekaligus pesan bahwa mereka tetap dinantikan untuk pulang.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Tabur Bunga dan Penghormatan Terakhir Keluarga?Tabur Bunga dan Penghormatan Terakhir Keluarga is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Tabur Bunga dan Penghormatan Terakhir Keluarga matter?Tabur Bunga dan Penghormatan Terakhir Keluarga matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.