beritaterbaik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Relawan Kebakaran Hutan Diimbau Jangan Abaikan Kelelahan

Published Oktober 24, 2026 · Updated Oktober 24, 2026 · By wpmanadmin - beritaterbaik.com

Foto : beritaterbaik.com

BNPB Tekankan Keselamatan Relawan dalam Penanganan Karhutla

Beritaterbaik.com – Relawan yang membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan perlu menempatkan keselamatan sebagai prioritas selama berada di lapangan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa semangat membantu harus tetap disertai kepatuhan pada prosedur operasi, penggunaan perlengkapan pelindung, serta pengaturan waktu istirahat yang memadai.

Penanganan karhutla melibatkan kondisi kerja yang berat. Paparan asap, panas, api, medan yang tidak mudah dilalui, dan durasi kerja panjang dapat meningkatkan risiko bagi petugas maupun relawan. Karena itu, keterlibatan relawan perlu menjadi bagian dari operasi yang terkoordinasi, bukan kegiatan yang dijalankan sendiri-sendiri.

Koordinasi dengan Pos Komando

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa relawan mempunyai peran penting dalam mendukung upaya pemadaman. Namun, seluruh pengerahan personel perlu mengikuti rencana operasi yang ditetapkan di wilayah penanganan.

“Untuk itu kami mengimbau kepada relawan agar senantiasa bila terlibat dalam penanganan karhutla ini tetap memperhatikan rencana operasi dari pos komando,” kata Berton dalam pemaparan daring.

Pos komando menjadi titik pengaturan utama bagi berbagai unsur yang terlibat, termasuk relawan di tingkat kabupaten, kota, kecamatan, maupun desa. Melalui koordinasi tersebut, pembagian tugas, arah pergerakan, kebutuhan personel, dan pengaturan keselamatan dapat dilakukan dengan lebih jelas.

Kepatuhan terhadap arahan pos komando juga penting agar relawan tidak memasuki area berbahaya tanpa kesiapan yang cukup. Dalam operasi pemadaman, perubahan arah angin, kepadatan asap, hingga perkembangan api dapat mengubah situasi dengan cepat. Informasi lapangan yang terpusat membantu setiap tim mengambil langkah yang lebih aman.

BPBD Diminta Mengawasi Kondisi Personel

BNPB juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD tetap menjalankan pengawasan terhadap keamanan relawan. Kehadiran petugas keselamatan atau safety officer di lokasi dipandang perlu untuk memastikan prosedur kerja diterapkan ketika pemadaman berlangsung.

“Kemudian untuk BPBD tetap melakukan supervisi terkait keamanan maupun keselamatan dari para relawan,” ujarnya.

Safety officer berperan mengingatkan personel mengenai penggunaan perlengkapan, kondisi area kerja, jalur aman, serta potensi risiko yang muncul selama operasi. Pengawasan seperti ini membantu memastikan bahwa kegiatan pemadaman tidak hanya berfokus pada pengendalian api, tetapi juga perlindungan orang-orang yang bekerja di sekitarnya.

Sebelum operasi dimulai, relawan perlu memperoleh pembekalan atau briefing. Tahap ini diperlukan agar semua personel memahami tugas, lokasi kerja, prosedur komunikasi, dan langkah yang harus ditempuh apabila menghadapi keadaan darurat. Setelah kegiatan berakhir, debriefing diperlukan untuk mengevaluasi pelaksanaan operasi dan menilai kesiapan tim untuk penugasan berikutnya.

“Pihak lain juga kami tentu mengimbau adanya pembekalan atau briefing dalam pelaksanaan operasi serta debriefing setelah operasi selesai,” kata Berton.

Evaluasi setelah bertugas dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa kondisi kesehatan personel. Hal tersebut mencakup kelelahan, kebutuhan pemulihan, serta persoalan di lapangan yang perlu diperbaiki pada kegiatan berikutnya. Dengan demikian, pengalaman dari satu operasi dapat digunakan untuk memperkuat kesiapan pada hari selanjutnya.

Kelelahan Tidak Boleh Diabaikan

Pengaturan giliran kerja menjadi bagian penting dalam operasi karhutla. BNPB menekankan bahwa pengerahan relawan harus mengikuti durasi yang telah ditentukan oleh pos komando. Relawan yang sudah mengalami kelelahan fisik maupun mental sebaiknya tidak dipaksa melanjutkan tugas.

“Kami tidak menyarankan ketika relawan sudah mengalami kelelahan fisik ataupun kelelahan mental” untuk terus bekerja, ujar Berton.

Personel yang lelah perlu beristirahat dan kemudian digantikan tim lain yang telah disiapkan. Pengaturan shift oleh pemerintah daerah dimaksudkan agar tenaga di lapangan tetap tersedia tanpa mengorbankan keselamatan individu. Istirahat bukan berarti mengurangi kontribusi relawan, melainkan bagian dari upaya menjaga operasi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Selain beristirahat, relawan diingatkan untuk memenuhi kebutuhan cairan ketika mulai merasa haus atau kelelahan. Kondisi panas dan aktivitas fisik saat pemadaman dapat menguras tenaga. Mengenali tanda tubuh membutuhkan jeda merupakan langkah penting agar relawan dapat kembali bertugas dalam keadaan lebih siap.

Pengetahuan Pemadaman dan APD yang Tepat

BNPB turut menekankan pentingnya pengetahuan dasar bagi relawan yang turun menangani kebakaran hutan dan lahan. Relawan perlu memahami bagaimana api terbentuk, cara melakukan pemadaman, serta langkah untuk menghindari bahaya. Pembekalan keterampilan tersebut dibutuhkan agar relawan tidak justru menjadi korban ketika membantu operasi.

“Kami berharap relawan tersebut dibekali ilmu-ilmu atau mencari ilmu terkait dengan cara pemadaman api,” tutur Berton.

Perlengkapan pelindung diri juga tidak boleh dipandang sebagai pelengkap semata. BNPB mengimbau penggunaan helm keselamatan, kacamata pelindung, dan masker respirator berstandar N95. Helm harus dikenakan secara benar, sementara kacamata membantu mengurangi risiko mata terkena asap maupun percikan yang dapat menimbulkan perih atau luka.

Masker respirator N95 digunakan untuk membantu melindungi relawan dari partikel, termasuk PM2.5. Di area kebakaran, asap dapat membawa partikel yang mengganggu pernapasan. Penggunaan pelindung pernapasan yang sesuai menjadi salah satu langkah mendasar untuk mengurangi paparan selama berada di lokasi tugas.

BNPB juga menyarankan pakaian tahan panas, sarung tangan kulit tahan panas, sepatu bot, ransel, dan perlengkapan lapangan lain yang dibutuhkan. Setiap perlengkapan memiliki fungsi perlindungan tersendiri, mulai dari menjaga tangan, kaki, dan tubuh hingga membantu relawan membawa kebutuhan kerja dengan lebih aman.

“Gunakan sarung tangan kulit yang dan yang tahan panas, sepatu boot di lapangan juga digunakan,” ujar Berton.

Kesiapan relawan dalam penanganan karhutla tidak hanya diukur dari jumlah personel yang hadir. Kemampuan bekerja dalam koordinasi, kesediaan mematuhi jadwal istirahat, pengetahuan menghadapi api, dan disiplin menggunakan APD merupakan bagian yang sama pentingnya. Dengan prosedur keselamatan yang dijalankan secara konsisten, relawan dapat memberi bantuan secara efektif sekaligus mengurangi risiko bagi diri sendiri dan rekan satu tim.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Relawan Kebakaran Hutan Diimbau Jangan Abaikan?

Relawan Kebakaran Hutan Diimbau Jangan Abaikan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Relawan Kebakaran Hutan Diimbau Jangan Abaikan matter?

Relawan Kebakaran Hutan Diimbau Jangan Abaikan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.