beritaterbaik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

PDIP Bakal Gelar Pekan Peduli Sampah Nasional, Kejar Rekor MURI

Published Oktober 17, 2026 · Updated Oktober 17, 2026 · By wpmanadmin - beritaterbaik.com

Foto : beritaterbaik.com

PDIP Siapkan Pekan Peduli Sampah Nasional pada November 2026

Beritaterbaik.com – PDI Perjuangan akan menggelar Pekan Peduli Sampah Nasional pada 9 hingga 14 November 2026 dengan melibatkan kader partai sampai tingkat desa di berbagai wilayah Indonesia. Rangkaian kegiatan yang berpusat di Jakarta tersebut diarahkan untuk memperkuat kebiasaan pengolahan sampah organik rumah tangga sekaligus membidik pencatatan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 14 November. Selain pengolahan sampah organik, agenda itu akan diwarnai aksi bersih-bersih yang dilakukan di ibu kota provinsi maupun kabupaten. Pengumpulan dan pemilahan sampah menjadi bagian dari gerakan Merawat Pertiwi yang diusung partai.

Pengolahan Sampah Organik Jadi Fokus

Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDIP Eriko Sotarduga menyampaikan rencana kegiatan tersebut saat mengikuti webinar dari kawasan Clungup Mangrove Conservation Tiga Warna di Malang Selatan, Sabtu, 17 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa pengolahan sampah dari rumah dapat menjadi langkah sederhana yang memberi dampak bagi lingkungan.

“Nanti kami sebagai Ketua DPP Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tanggal 9 sampai 14 November akan mengadakan Pekan Peduli Sampah Nasional.”

Eriko menyatakan target pemecahan rekor MURI ditempatkan pada hari terakhir penyelenggaraan. Keterlibatan kader di banyak daerah diharapkan membuat praktik pengelolaan sampah tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan kebiasaan yang dapat diterapkan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

“Kita akan memecahkan rekor MURI nanti tanggal 14 November.”

Sampah organik seperti sisa makanan, daun, serta limbah rumah tangga sejenisnya menjadi bahan utama yang akan diolah. Hasil pengolahan tersebut didorong untuk dimanfaatkan sebagai pupuk, sehingga masyarakat memiliki pilihan selain penggunaan pupuk kimia.

Eriko menilai pemakaian pupuk kimia perlu diperhatikan karena dapat berpengaruh terhadap kondisi tanah. Ia menggambarkan tanah yang menjadi keras sebagai salah satu persoalan yang perlu dipahami masyarakat ketika membicarakan pemeliharaan lingkungan dan pertanian.

“Bapak-bapak tahu tidak apa efek samping dari pupuk kimia? Tanah menjadi keras.”

Biodekomposer untuk Mempercepat Penguraian

Salah satu pendekatan yang akan dipromosikan adalah pemakaian bio-decomposer atau biodekomposer. Bahan ini digunakan dalam tumpukan sampah organik untuk membantu proses penguraian berjalan lebih cepat serta menekan bau yang muncul selama pengolahan.

“Kita tumpuk sampah organik di sana, bekas sisa makanan, daun-daunan dan lain-lain, tapi nanti harus diberikan namanya bio-decomposer untuk apa? Agar tidak bau dan proses itu menjadi lebih cepat,” kata Eriko.

Pendekatan tersebut relevan bagi rumah tangga karena sampah organik umumnya dihasilkan setiap hari. Pemilahan sejak dari rumah menjadi tahap penting: bahan yang mudah membusuk dapat dipisahkan dari sampah lain agar lebih mudah diolah. Dengan cara ini, sisa makanan dan dedaunan tidak langsung tercampur dengan limbah yang sulit terurai.

Eriko juga menghubungkan agenda lingkungan itu dengan peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November. Baginya, tindakan menjaga kebersihan dan mengelola sampah di sekitar tempat tinggal merupakan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan siapa saja.

“Kita bisa menjadi pahlawan di lingkungan kita masing-masing.”

Program TEBA di Tingkat RT

Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa pengelolaan sampah organik juga akan dijalankan melalui program TEBA di lingkungan rukun tetangga. Dalam program ini, sampah organik rumah tangga dikumpulkan pada tempat pengolahan yang disiapkan, lalu dibantu dengan biodekomposer agar prosesnya tidak mengganggu warga akibat bau.

“Kita olah, kami akan membuat TEBA. TEBA itu sampah organik dimasukkan di situ. Bagi yang ikut webinar nanti yang perlu nanti kami berikan datanya. Termasuk diberikan biodekomposer agar sampahnya tidak berbau, sampah organik rumah tangga itu agar tidak berbau,” ujar Hasto.

Rencana tersebut menempatkan RT sebagai ruang penting untuk membangun kebiasaan bersama. Skala lingkungan terdekat memungkinkan warga berbagi cara memilah, mengumpulkan, dan mengolah sampah dari rumah. Pengelolaan berbasis komunitas juga dapat membuat persoalan sampah lebih mudah dibicarakan dalam aktivitas sehari-hari.

Hasto turut menekankan bahwa isu lingkungan tidak dapat dipisahkan dari tata ruang, perlindungan hutan, dan masa depan ketahanan pangan. Ia menilai lahan pertanian perlu dijaga agar tidak beralih fungsi bagi kepentingan lain.

“Maka politik tata ruang, moratorium hutan-hutan kita harus dilakukan. Tidak boleh ada konversi lahan pertanian untuk kepentingan lain karena itu menyangkut masa depan anak cucu kita. Kita harus berdaulat di bidang pangan,” katanya.

Berbagi Praktik Pengelolaan Lingkungan

Pekan Peduli Sampah Nasional juga dirancang sebagai ruang pertukaran pengalaman bagi kepala daerah dari PDI Perjuangan. Pengelolaan sampah, penataan kota, pembuatan taman, pemanfaatan teknologi, dan kebijakan tata ruang menjadi contoh bidang yang dapat dibahas dalam kegiatan itu.

“Termasuk Bu Risma di dalam mengelola sampah, mengelola lingkungan, membuat taman-taman kota, politik tata ruang, kemudian penggunaan teknologi,” ujar Hasto.

Dalam webinar yang sama, penggerak lingkungan M. Zamroni membagikan perjalanan Tunas Hijau dalam mengembangkan kepedulian terhadap sampah sejak 1999. Ketertarikannya muncul setelah ia mengikuti program pertukaran pemuda ke Australia dan melihat perbedaan kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah.

“90% masyarakat di Jawa Timur waktu itu masih buang sampah di sekitarnya, sembarangan. Kalau di sana susah, bahkan 99% buang sampah pada tempatnya,” katanya.

Setelah kembali ke Indonesia, Zamroni bersama tim mengajak warga untuk membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Mereka juga mengampanyekan penggunaan wadah sampah sementara yang dapat dibawa di saku serta pengurangan konsumsi air mineral kemasan sekali pakai.

Sejak 2002, Tunas Hijau memperluas keterlibatan anak-anak dan remaja melalui Akademi Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup. Program tersebut mengajak generasi muda memulai pengolahan sampah dari rumah dengan dukungan keluarga. Pesan utama dari berbagai inisiatif ini sejalan: pengurangan sampah tidak harus menunggu program besar, karena dapat diawali melalui pemilahan dan pengolahan yang konsisten di rumah sendiri.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is PDIP Bakal Gelar Pekan Peduli Sampah?

PDIP Bakal Gelar Pekan Peduli Sampah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does PDIP Bakal Gelar Pekan Peduli Sampah matter?

PDIP Bakal Gelar Pekan Peduli Sampah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.