beritaterbaik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Menteri Wihaji: Perbaiki Negara Dimulai dari Keluarga

Published Oktober 30, 2026 · Updated Oktober 30, 2026 · By wpmanadmin - beritaterbaik.com

Foto : beritaterbaik.com

Keluarga Sehat Jadi Fondasi Perbaikan Bangsa

Beritaterbaik.com – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menempatkan kesehatan keluarga sebagai titik awal peningkatan kualitas bangsa. Perhatian itu, kata dia, perlu dijalankan sepanjang tahapan kehidupan, dari masa persiapan pernikahan hingga usia lanjut.

Pesan tersebut disampaikan Wihaji saat menghadiri Kongres Nasional XVI dan Forum Ilmiah Tahunan XII Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) di Gedung Nusantara V, Kompleks MPR/DPR RI, Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.

“Kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga. Caranya gimana? Keluarganya sehat. Siapa yang menyehatkan? Pak Menteri Kesehatan. Kalau ada masalah, minta bantuan siapa? Menteri Sosial,” ujar Wihaji.

Gagasan itu menegaskan bahwa pembangunan keluarga tidak berhenti pada urusan rumah tangga. Kesehatan setiap anggota keluarga berkaitan dengan kesiapan anak tumbuh, kemampuan remaja berkembang, kondisi ibu selama kehamilan, serta kualitas hidup warga pada usia lanjut. Karena itu, upaya membangun keluarga sehat membutuhkan peran lintas sektor dan keterlibatan masyarakat.

Pendampingan Sejak Sebelum Kehamilan

Wihaji menjelaskan bahwa kementeriannya berperan mendorong gerakan masyarakat dan perubahan perilaku keluarga agar kesehatan menjadi perhatian bersama. Tahap yang disorot mencakup calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, serta anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan atau HPK.

Masa 1.000 HPK merupakan rentang sejak awal kehamilan sampai anak berusia sekitar dua tahun. Pada fase ini, pemenuhan kebutuhan gizi dan perhatian terhadap kesehatan menjadi bagian penting dari pencegahan masalah tumbuh kembang, termasuk stunting.

“Calon pengantin kita pastikan sehat, ibu hamil kita pastikan sehat, ibu menyusui kita pastikan sehat, kemudian baduta 1.000 hari pertama kita pastikan sehat supaya tidak stunting,” kata Wihaji.

Perhatian berkelanjutan juga diperlukan setelah anak melewati periode awal kehidupannya. Wihaji menyebut balita, remaja, dan lansia sebagai kelompok yang sama-sama harus dijaga kesehatannya. Ia turut mengapresiasi kehadiran peserta lanjut usia pada kegiatan IAKMI tersebut, termasuk mereka yang telah berumur 80 tahun dan 86 tahun.

“Kita pastikan balitanya sehat, remajanya sehat, lansianya luar biasa sehat. 80 tahun, 86 tahun luar biasa. Kalau itu sehat semua, tugas saya selesai,” ucapnya.

Pendekatan sepanjang siklus hidup ini memberi arti bahwa persoalan kesehatan tidak seharusnya ditangani saat seseorang telah sakit. Keluarga dapat menjadi ruang pertama untuk membiasakan pola hidup yang lebih peduli pada kondisi anggota rumah tangga, pemenuhan kebutuhan anak, dan dukungan bagi kelompok yang memerlukan perhatian khusus.

MPASI 3B dan Upaya Menekan Stunting

Dalam penanganan stunting, Wihaji menyoroti program MPASI 3B sebagai salah satu langkah pemenuhan gizi. Program tersebut menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Asupan gizi dipandang sebagai salah satu unsur penting dalam upaya memperbaiki kondisi penerima manfaat.

Namun, ia menekankan bahwa penilaian prevalensi stunting secara nasional bukan berada dalam kewenangan kementeriannya. Dampak program terhadap angka prevalensi nasional masih perlu menunggu hasil survei dari Kementerian Kesehatan atau kementerian terkait.

“Harapan kita, insyaallah, secara… belum survei nih, ada dampak dari kesehatan masing-masing penerima manfaat. Dampaknya jelas. Kan kita sederhana mengukurnya, mulai dari berat badan, tinggi badan. Tapi tidak hanya itu, secara komprehensif ada surveinya,” ujar Wihaji.

Pengukuran berat dan tinggi badan dapat membantu melihat perubahan pada penerima manfaat secara langsung. Meski demikian, gambaran tersebut belum dapat menggantikan survei komprehensif untuk mengukur perkembangan prevalensi stunting dalam skala lebih luas.

Wihaji mengaku telah melihat perubahan secara kasat mata pada sebagian penerima manfaat setelah memperoleh asupan gizi. Pengamatan itu mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. Akan tetapi, ia tetap membedakan hasil pengamatan di lapangan dengan kesimpulan yang harus ditopang survei resmi.

“Secara kasat mata kelihatan, setelah mendapatkan asupan gizi, baik ibu hamil, ibu menyusui, maupun balita non-PAUD, lumayanlah,” ujarnya.

Gizi Bukan Satu-satunya Faktor

Stunting tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan kurangnya makanan bergizi. Wihaji mengingatkan adanya faktor lain yang juga memerlukan penanganan, termasuk ketersediaan air bersih, sanitasi, dan pernikahan dini. Artinya, program gizi perlu berjalan bersama perbaikan kondisi lingkungan serta edukasi yang menyentuh keluarga dan masyarakat.

“Walaupun stunting tidak hanya gizi, ada nanti air bersih, ada sanitasi, ada pernikahan dini, tapi minimal asupan gizi salah satu solusinya,” katanya.

Pesan tersebut memperlihatkan pentingnya kerja bersama dalam menghadapi stunting. Dukungan gizi dapat membantu kelompok sasaran, tetapi keberhasilan jangka panjang juga berkaitan dengan kebiasaan hidup bersih, akses terhadap lingkungan yang sehat, serta kesiapan keluarga dalam merencanakan kehidupan.

Wihaji berharap MPASI 3B menjadi salah satu bagian dari langkah untuk menekan stunting. Ia juga menaruh harapan pada kolaborasi dengan IAKMI dan berbagai pihak yang memiliki peran dalam kesehatan masyarakat. Kerja sama semacam ini dinilai penting karena pembangunan keluarga sehat membutuhkan keterlibatan banyak unsur, bukan hanya satu lembaga.

Dengan perhatian yang dimulai sejak calon pengantin, dilanjutkan selama kehamilan dan masa awal tumbuh anak, lalu dijaga hingga remaja serta lansia, kesehatan keluarga dapat menjadi dasar bagi kualitas manusia yang lebih baik. Bagi masyarakat, pesan utamanya sederhana: perbaikan besar dapat dimulai dari perhatian yang konsisten terhadap kesehatan di rumah.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Menteri Wihaji?

Menteri Wihaji is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menteri Wihaji matter?

Menteri Wihaji matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.