beritaterbaik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Hari Keempat Gempa NTT, 70 Orang Meninggal

Published Agustus 18, 2026 · Updated Agustus 18, 2026 · By beritaterbaik - beritaterbaik.com

Hari Keempat Gempa NTT 70 Orang: Pembaruan Data Korban dan Operasi SAR

Beritaterbaik.com – Hari Keempat Gempa NTT 70 Orang menjadi sorotan utama penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur. Hingga Selasa (18/8/2026), jumlah warga yang meninggal akibat guncangan berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut tercatat sebanyak 70 jiwa. Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo, menyampaikan bahwa total korban yang terkompilasi hingga akhir hari ketiga, Senin (17/8/2026) pukul 23.30 WITA, mencapai 202 orang.

"Sampai dengan hari ketiga kemarin pukul 23.30 WITA, telah kami kompilasi total korban adalah 202 orang. Kemudian meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang yang kami catat. Kemudian luka berat 40 orang, luka ringan 92 orang," ujar Yudhi dalam konferensi pers daring bersama BNPB dan Basarnas.

Memasuki hari keempat, Basarnas menyatakan tidak lagi menerima laporan warga yang masih dalam pencarian. Tim SAR di lapangan kemudian mengalihkan fokus ke penyisiran wilayah terdampak serta pendampingan proses pemulihan yang dikoordinasikan BNPB. Yudhi menegaskan bahwa berdasarkan masukan dari keluarga korban, tetangga, dan rekan, tidak ada lagi nama yang tercatat hilang.

Skala Pengungsian dan Kerusakan Rumah

Di luar korban jiwa, dampak sosial gempa ini sangat luas. Sebanyak 40.040 warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, sementara 11.925 unit rumah mengalami berbagai tingkat kerusakan. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa angka pengungsi tersebut tidak semata-mata mencerminkan kerusakan fisik bangunan, melainkan juga dampak psikologis yang mendorong warga memilih mengungsi secara mandiri.

Sebaran pengungsi tercatat di sejumlah kabupaten: Manggarai 6.487 orang, Manggarai Timur 966 orang di posko BPBD ditambah sekitar 14.000 orang mengungsi mandiri, Manggarai Barat 600 orang, Nagekeo 6.221 orang, Sikka 5.681 orang, Ende 3.666 orang, dan Ngada 1.920 orang. Untuk kerusakan rumah, rinciannya meliputi 5.516 unit rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan. Kabupaten dengan tingkat kerusakan tertinggi adalah Nagekeo, Manggarai Barat, dan Ngada.

Basarnas juga memperkuat layanan kesehatan di wilayah yang sulit dijangkau. Pada Selasa (18/8/2026), kapal KN SAR Antareja 233 diberangkatkan dari Kupang untuk memindahkan 40 tenaga medis dari Kodam IX/Udayana beserta sukarelawan menuju Manggarai via Reo. Helikopter digunakan untuk mengirim tujuh tenaga kesehatan ke Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, dalam dua sorti penerbangan. Delapan warga juga dievakuasi dari Lamba Leda ke Labuan Bajo guna mendapatkan perawatan lanjutan di rumah sakit.

BNPB mencatat total korban luka berdasarkan data Kementerian Kesehatan mencapai 1.182 orang, angka yang berbeda dari catatan Basarnas. Berton menjelaskan perbedaan tersebut disebabkan basis pencatatan yang berbeda: Basarnas menghitung berdasarkan orang yang ditemukan di lapangan, sedangkan Kemenkes mencatat warga yang menerima pelayanan di fasilitas kesehatan. "Namun demikian, itu tidak perlu kita permasalahkan karena memang dasar perhitungannya yang berbeda," katanya.

FAQ: Informasi Praktis untuk Warga Terdampak

Apakah masih ada warga yang dalam pencarian? Tidak. Sejak hari keempat, Basarnas tidak menerima laporan warga yang masih hilang. Seluruh operasi SAR telah beralih ke penyisiran dan pemulihan.

Ke mana warga dapat mengungsi dan mendapatkan bantuan? Posko BPBD di masing-masing kabupaten (Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ende, Ngada, dan Manggarai Barat) menerima pengungsi. Warga juga dapat mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat atau tempat aman di luar zona rawan.

Bagaimana cara melaporkan kerusakan rumah atau kebutuhan medis? Warga dapat menghubungi posko BNPB/BPBD setempat atau menghubungi Basarnas melalui jalur koordinasi Kodam IX/Udayana untuk evakuasi medis darurat di wilayah terpencil.

Related Reading