Gempa Susulan Masih Terus Terjadi Usai Peringatan Tsunami Berakhir
Tsunami Waspada Resmi Diakhiri, Gempa Susulan Masih Berlangsung di Nagekeo
Beritaterbaik.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengakhiri peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan menyusul guncangan bumi magnitudo 7,0 di wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Langkah ini diambil pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026, tepatnya pukul 07.30 WIB. Keputusan tersebut didasarkan pada pemantauan ketat terhadap kondisi permukaan laut di berbagai kawasan terdampak, yang menunjukkan tidak adanya kenaikan air laut yang signifikan dan berpotensi membahayakan.
Jadwal Lengkap Penerbitan Peringatan Dini
Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG, menjelaskan bahwa peringatan dini pertama kali diterbitkan pada pukul 05.00.39 WIB. Waktu tersebut hanya berjarak 2 menit 16 detik dari saat gempa utama terjadi, yaitu pukul 04.58.23 WIB.
Peringatan dini 1 telah diterbitkan pada pukul 05.00.39 WIB atau 2 menit 16 detik setelah gempa bumi, kata Nelly dalam konferensi pers.
Setelah itu, pada pukul 05.09.56 WIB atau 11 menit 33 detik pasca-gempa, peringatan dini kedua pun dirilis. BMKG kemudian melanjutkan dengan empat kali pembaruan untuk peringatan dini ketiga. Pembaruan-pembaruan ini mencakup penyegaran parameter gempa serta data observasi tide gauge, yang meliputi perkiraan waktu kedatangan dan ketinggian gelombang tsunami.
Rincian waktu penerbitan peringatan dini ketiga adalah sebagai berikut:
- PDT 3.1 pada pukul 05.49.50 WIB
- PDT 3.2 pada pukul 06.28.42 WIB
- PDT 3.3 pada pukul 06.49.19 WIB
- PDT 3.4 pada pukul 07.05.33 WIB
Pertama, peringatan dini 3.1 pukul 05.49.50 WIB atau 51 menit 27 detik setelah gempa bumi. Kedua, peringatan dini 3.2 pukul 06.28.42 WIB atau 1 jam 30 menit 19 detik setelah gempa bumi. Ketiga, peringatan dini 3.3 pada pukul 06.49.19 WIB atau 1 jam 50 menit 56 detik setelah gempa bumi. Kemudian peringatan dini 3.4 pukul 07.05.33 WIB atau 2 jam 7 menit 10 detik setelah gempa bumi, sambungnya.
Intensitas Guncangan di Berbagai Wilayah
Pemutakhiran peta tingkat guncangan atau shakemap yang dirilis BMKG mengindikasikan bahwa gempa dirasakan cukup kuat di beberapa lokasi di NTT. Intensitas VII MMI dicatat di tiga tempat, yaitu Aesesa di Kabupaten Nagekeo, Riung di Kabupaten Ngada, serta Kota Ende.
7 MMI, tiap-tiap orang keluar rumah, kerusakan ringan pada bangunan konstruksi yang baik, di Aesesa Kabupaten Nagekeo, Riung Kabupaten Ngada, Kota Ende, kata Nelly.
Sementara itu, intensitas VI MMI tercatat di Boawae (Kabupaten Nagekeo) dan Kota Bajawa. Pada level ini, getaran dirasakan oleh seluruh penduduk, dengan sebagian besar terkejut dan berlari keluar.
Kemudian 6 MMI, di mana getaran dirasakan oleh semua penduduk, kebanyakan semua terkejut dan lari keluar. Itu di Boawae Kabupaten Nagekeo, kemudian di Kota Bajawa, ujarnya.
Intensitas V MMI juga dirasakan di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng. Getaran pada level ini cukup kuat sehingga hampir semua penduduk merasakannya, dan banyak orang terbangun dari tidur.
Aktivitas Gempa Susulan dan Imbauan BMKG
Berlanjut hingga pukul 07.07 WIB, BMKG mencatat total 37 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 3,6 hingga 6,2. Dari jumlah tersebut, hanya satu gempa yang dirasakan oleh masyarakat.
Hingga pukul 07.07, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 37 aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock dengan magnitudo antara 3,6 sampai 6,2 dan yang dirasakan sejumlah satu gempa, kata Nelly.
Meskipun ancaman tsunami telah dinyatakan berakhir, BMKG tetap memantau aktivitas gempa susulan serta perubahan tinggi muka air laut. Institusi tersebut berkomitmen untuk terus memberikan pemutakhiran informasi kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat.
BMKG akan terus memonitor keaktifan gempa bumi susulan dan ketinggian tsunami berdasarkan observasi tinggi muka air laut, serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat, ujarnya.
Nelly juga mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, masyarakat diminta menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat gempa, serta tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan lebih lanjut.
Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kemudian menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi, dan mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi, ujar Nelly.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Gempa Susulan Masih Terus Terjadi Usai?Gempa Susulan Masih Terus Terjadi Usai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Gempa Susulan Masih Terus Terjadi Usai matter?Gempa Susulan Masih Terus Terjadi Usai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.