Dilema Guru di Tengah Wacana Siswa Tak Otomatis Naik Kelas
Beritaterbaik.com – Liputan6.com, Jakarta - Bagi Tuti Risyanti (44), wacana siswa tidak otomatis naik kelas bukan sekadar soal menegakkan disiplin belajar. Sebagai guru SMPN Satu Atap 4 Cipatujah, Tuti pernah menghadapi dilema ketika harus meluluskan siswa yang dinilai belum memenuhi kemampuan akademik. Karena itu, Tuti mendukung wacana yang disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti tersebut.
Menurut dia, kebijakan itu berpotensi mendorong siswa lebih serius belajar dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. "Kalau menurut saya pribadi, setelah berbicara dengan banyak guru dan juga kepala sekolah, sepertinya untuk kebijakan ini akan sangat efektif untuk pendidikan di Indonesia. Karena anak-anak sekarang, apalagi anak-anak sekarang Alpha ya, bukan Gen Z lagi, ya sudah Gen Alpha, sepertinya untuk lebih ke arah tegas disiplinnya," kata Tuti saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (09/10/26).
Tuti menilai motivasi belajar sebagian siswa mulai menurun, terutama di sekolah yang berada di wilayah perdesaan. Menurut dia, diperlukan terobosan agar siswa kembali terdorong untuk berkompetisi dan berprestasi. "Di kondisi sekarang, apalagi untuk sekolah kami yang berada di desa ya, saya rasa mereka itu mulai tidak ada motivasi, seperti keinginan raih prestasi atau yang lainnya cenderung mulai kehilangan dorongan minat, jadi jika memang itu akan berlaku, menurut saya itu hal positif, karena siswa pun jadi akan lebih giat lagi belajarnya,” jawab Tuti.
Menurut Tuti, sistem kenaikan kelas otomatis berisiko membuat sebagian siswa menganggap remeh proses belajar. Mereka bisa beranggapan akan tetap naik kelas meski tidak berusaha meningkatkan kemampuan. "Mereka akan berpikirnya, 'Ah, ngapain juga belajar-belajar, enggak enggak belajar juga pasti lulus atau pasti naik' Nah, justru dengan adanya langkah tadi menurut saya akan lebih berpikir," ujar Tuti.
Meski mendukung wacana tersebut, Tuti menyadari kebijakan tidak naik kelas dapat memengaruhi kondisi psikologis siswa. Karena itu, guru perlu memberikan pendampingan agar siswa tidak merasa minder atau tertinggal. "Tidak bisa dipungkiri, tidak bisa dihindari, tapi kita berusaha kita sebagai guru mungkin ya, kita akan melakukan pendekatan lebih dekat lagi supaya anak tersebut makin termotivasi untuk belajar, merasa tidak minder, tidak tertinggal, maka kalau upaya kami akan ajak anak tersebut untuk lebih aktif di ekskul atau di kegiatan lainnya sehingga anak tersebut bisa membuktikan kemampuan di bidang lainnya," kata Tuti.
Di balik dukungannya terhadap wacana tersebut, Tuti mengungkapkan dilema yang dihadapi guru ketika berhadapan dengan siswa yang dinilai belum memenuhi standar kelulusan. Ia mengaku pernah berada dalam situasi ketika sekolah tetap meluluskan siswa meski kemampuan akademiknya belum memadai. "Kami sempat terpaksa meluluskan siswa seperti itu.
Dengan alasan karena kalau kita tidak meluluskan siswa tersebut, nama sekolah kita tetap akan jelek di Dinas Pendidikan, karena akan ada data orang yang tidak lulus. Tentunya akan jadi bumerang bagi kita. Padahal pada faktanya kita sebagai tenaga pendidik menilai anak tersebut tidak bisa diluluskan," ujar Tuti.
Pengalaman tersebut membuat Tuti berharap pemerintah tidak hanya mempertimbangkan tujuan peningkatan mutu pendidikan, tetapi juga kesiapan sekolah, kondisi siswa, dan pemahaman orang tua sebelum menerapkan kebijakan. "Kalau saya mungkin harapannya kepada pemerintah tidak hanya asal membuat kebijakan saja, melainkan tetap mempertimbangkan hal yang tidak memberatkan bagi siswa serta ada sosialisasi bagi orang tua agar orang tua dapat memahami dan tidak timbul salah kaprah," tandas Tuti. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti sebelumnya menyampaikan rencana untuk mengakhiri sistem kenaikan kelas otomatis.
Wacana tersebut disiapkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. "Terkait peningkatan mutu, kami mendapatkan masukan, supaya kebijakan tidak naik kelas diberlakukan lagi. Ini rekomendasinya Dewan Pendidikan," kata Abdul Mu'ti, dikutip Rabu (7/10/2026).
Mu'ti mengatakan kebijakan siswa tidak naik kelas pada jenjang pendidikan dasar hingga menengah direncanakan mulai berlaku kembali pada tahun ajaran 2027 dan seterusnya. "Dan kalau ini disetujui, dan mungkin menjadi bagian dari rekomendasi konvensi ini, tentu kami akan siap melaksanakan. Sehingga mulai tahun ajaran 2027 dan seterusnya, tidak semua murid otomatis naik kelas," papar Mu'ti.
Menurut Mu'ti, kebijakan tersebut diperlukan karena ia khawatir terhadap fenomena yang disebutnya sebagai "rumus RMS", atau Rajin Malas Sama Saja. Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Dilema Guru di Tengah Wacana Siswa?Dilema Guru di Tengah Wacana Siswa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Dilema Guru di Tengah Wacana Siswa matter?Dilema Guru di Tengah Wacana Siswa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.