Cerita Stasiun Tawang yang Lahir dari Tanah Rawa
Stasiun Tawang: Monumen Bersejarah di Atas Tanah Rawa
Beritaterbaik.com – Cerita Stasiun Tawang yang Lahir dari tanah rawa merupakan salah satu kisah menarik dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Di kawasan utara Kota Lama Semarang, sebuah struktur bersejarah masih kokoh berdiri di antara hiruk-pikuk perjalanan kereta api. Stasiun Semarang Tawang telah berusia lebih dari seratus tahun, namun fungsinya tetap konsisten. Kereta terus melintas dan berhenti di lokasi yang sama, sementara penumpang memenuhi setiap peron. Sebelum menjadi bangunan megah seperti saat ini, lokasi stasiun ini dulunya merupakan wilayah rawa yang tanah labilnya sering mengalami genangan air.
"Wilayah di utara Kota Lama Semarang saat itu masih berupa rawa dan tanah labil," tulis Hadi M. Djuraid dan tim dalam Buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia: Dulu, Kini, dan Mendatang.
Pemilihan lokasi ini memiliki alasan strategis. Pada masa itu, kawasan Kota Lama menjadi salah satu pusat perdagangan utama di Semarang. Kedekatannya dengan jalur kereta dan pelabuhan membuat keberadaan stasiun menjadi sangat vital untuk memperlancar distribusi orang dan barang. Sebelumnya, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS telah memiliki stasiun di Semarang, namun fasilitas tersebut tidak lagi mampu menampung pertumbuhan aktivitas perkeretaapian.
Proses Pembangunan dan Arsitektur
Tawang akhirnya ditetapkan sebagai lokasi stasiun baru. Menurut Hadi M. Djuraid, "Stasiun ini nantinya diperuntukkan bagi angkutan penumpang, sedangkan Stasiun Semarang kemudian dikhususkan sebagai stasiun bongkar muat barang." Desain stasiun ini dikerjakan oleh arsitek Belanda bernama Sloth-Blauwboer. Peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1911 oleh Anna Wilhelmina van Lennep, putri dari Kepala Teknisi NISM.
Karena kondisi tanah yang tidak stabil, proses pemadatan tanah berlangsung selama berbulan-bulan menggunakan lempengan pelat beton. Konstruksi bangunan menggunakan beton bertulang dengan panjang mencapai 168 hingga 175 meter. Bagian tengah bangunan memiliki atap lebih tinggi yang dilengkapi kubah persegi besar berlapis tembaga.
Di dalam bangunan utama terdapat hall dengan langit-langit tinggi yang ditopang empat kolom utama. "Sepintas mirip dengan bagian tengah pendopo joglo (rumah adat Jawa)," demikian catatan Hadi M. Djuraid. Interior hall dihiasi relief perunggu hasil karya pemahat Willem Brouwer dari Leiderdorp.
Fasilitas dan Fungsi Kolonial
Dulu, hall dilengkapi tiga konter loket untuk melayani penumpang serta kios yang menjual koran dan buku. Jendela-jendela di sekitar kubah berfungsi ganda sebagai sumber pencahayaan dan ventilasi udara. Kaca-kaca tersebut berasal dari perusahaan J. H. Schouten di Den Haag. Di kedua sisi bangunan utama terdapat konstruksi besi berbentuk pelana yang dibuat oleh Werkspoor di Amsterdam, sementara atap menggunakan genteng dari Stoom Pannen Fabriek van Echt.
Pada era kolonial, kedua sayap bangunan memiliki fungsi berbeda. Sayap kanan difungsikan sebagai ruang tunggu kelas satu, ruang kepala stasiun, ruang sinyal, dan ruang operasional. Sebaliknya, sayap kiri menjadi tempat tunggu kelas dua dan tiga yang diperuntukkan bagi masyarakat pribumi.
Stasiun Tawang di Era Modern
Tepat pada 1 Juni 1914, Stasiun Tawang resmi beroperasi. Lebih dari satu abad kemudian, fasilitasnya terus disesuaikan dengan kebutuhan. KAI meningkatkan pelayanan untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimal atau SPM. Beberapa ruang mengalami perubahan fungsi, termasuk pemindahan ruang customer service, loket, dan gerai ATM dari dalam hall ke area samping hall. Ruang tunggu zona 3 juga diperluas dengan penambahan kursi di sisi kanan dan kiri hall.
Hall utama kini berfungsi sebagai ruang tunggu zona 2 untuk penumpang yang telah memiliki tiket dan menunggu waktu boarding atau masuk ke peron. Area tersebut juga menyediakan check-in counter untuk pencetakan tiket serta spot untuk berswafoto.
Meskipun fasilitas terus berkembang, karakter bangunan lama tetap dipertahankan. Stasiun Tawang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Walikota Nomor 646/50/1992 dan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW.007/MKP/2010. Selain itu, stasiun ini tercatat dalam Registrasi Nasional Cagar Budaya dengan nomor RNCB.20160711.02.001015.
FAQ Tentang Stasiun Tawang
Apa yang membuat Cerita Stasiun Tawang yang Lahir dari tanah rawa begitu unik? Keunikan terletak pada proses pemadatan tanah selama berbulan-bulan menggunakan pelat beton sebelum konstruksi dimulai, mengingat kondisi tanah rawa yang labil.
Kapan Stasiun Tawang resmi beroperasi? Stasiun Tawang resmi beroperasi pada tanggal 1 Juni 1914 setelah melalui proses pembangunan yang panjang.
Apakah Stasiun Tawang masih dilindungi sebagai cagar budaya? Ya, Stasiun Tawang dilindungi sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan dua surat keputusan, yaitu SK Walikota Nomor 646/50/1992 dan SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW.007/MKP/2010.
Siapa arsitek yang mendesain Stasiun Tawang? Desain Stasiun Tawang dikerjakan oleh arsitek Belanda bernama Sloth-Blauwboer dengan peletakan batu pertama pada tahun 1911.