beritaterbaik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Cerita Bahlil, dari Jualan Kue Cucur hingga Alami Busung Lapar

Published Oktober 12, 2026 · Updated Oktober 12, 2026 · By wpmanadmin - beritaterbaik.com

Foto : beritaterbaik.com

Perjalanan Bahlil Lahadalia: Dari Menjual Kue Cucur hingga Bertahan Saat Kelaparan

Beritaterbaik.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membagikan kisah masa kecil dan masa kuliahnya yang diwarnai keterbatasan ekonomi. Dalam perjalanan hidup tersebut, kue cucur bukan sekadar makanan tradisional, melainkan bagian penting dari upaya keluarganya bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kenangan tentang kue cucur masih melekat kuat baginya. Saat masih bersekolah dasar, ia membantu sang ibu menjual kue yang dibuat pada pagi hari. Aktivitas itu menjadi bagian dari rutinitas sebelum ia mengikuti pelajaran di sekolah.

“Kue cucur ini adalah kue yang enggak mungkin saya lupa. Sampai kemudian saya meninggal baru saya lupa,” ujar Bahlil.

Kue Cucur sebagai Penopang Keluarga

Bahlil mengenang bahwa ibunya biasa mulai membuat kue setelah menunaikan salat Subuh. Setelah itu, tugas menjualnya kepada teman-teman sekolah dilakukan oleh Bahlil. Bagi seorang anak sekolah, kegiatan tersebut bukan hanya urusan mencari uang saku, tetapi juga cara membantu keluarga menghadapi keadaan yang serba terbatas.

“Karena kue ini adalah kue yang sering saya jual di pagi hari di saat saya masih SD. Jadi setiap pagi ibu saya habis sholat subuh bikin kue cucur, kemudian saya yang jajanin ke teman-teman sekolah saya,” katanya.

Ia tidak menutup-nutupi kondisi ekonomi keluarganya pada masa itu. Bahlil menyampaikan bahwa keluarganya hidup dalam kemiskinan, sehingga setiap usaha kecil memiliki arti besar. Kue cucur yang dijualnya bersama keluarga menjadi salah satu penyangga kehidupan mereka.

“Saya kan dulu keluarga saya kan, ya mohon maaf, ya miskinlah. Saya tidak pernah malu untuk mengatakan bahwa kue ini yang pernah mempertahankan hidup saya dan orang tua saya. Kue ini,” ungkapnya.

Pengalaman itu menggambarkan bagaimana pekerjaan sederhana dapat memiliki arti yang sangat besar dalam kehidupan sebuah keluarga. Kue yang dibuat di dapur rumah dan dijual di lingkungan sekolah menjadi bagian dari perjuangan untuk memenuhi kebutuhan harian.

Perjalanan Panjang ke Jayapura

Perjuangan tersebut terus berlanjut ketika Bahlil melanjutkan pendidikan tinggi di Jayapura, Papua. Ia berangkat dari Fakfak menuju Jayapura menggunakan kapal perintis. Perjalanan laut itu berlangsung sekitar dua minggu, dengan kondisi kapal yang memuat beragam penumpang dan barang kebutuhan.

“Karena saya kuliah di Jayapura dari Fakfak ke Jayapura itu kan saya naik kapal perintis. Kapal perintis itu dalamnya itu kambing, ayam, singkong, campur lah gitu. Dua minggu aku. Baru tiba di Jayapura,” tuturnya.

Setelah sampai di Jayapura, Bahlil harus membangun kehidupan sendiri tanpa keluarga yang dapat menjadi tempat bergantung. Ia menegaskan bahwa sejak menjalani kuliah, dirinya tidak meminta kiriman uang dari orang tua. Keputusan itu membuatnya harus mencari cara untuk mencukupi kebutuhan hidup sambil tetap mengikuti pendidikan.

“Di Jayapura itu gak ada keluarga. Karena saya memang sejak kuliah gak pernah minta kiriman dari orang tua. Saya harus bertahan hidup,” katanya.

Situasi tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi mahasiswa perantau, terutama ketika harus menempuh pendidikan jauh dari rumah dengan dukungan finansial yang terbatas. Dalam cerita Bahlil, bertahan hidup menjadi kebutuhan yang harus dihadapi setiap hari, bukan sekadar ungkapan semangat.

Sarapan Mangga Muda di Asrama

Di masa kuliah, Bahlil dan teman-temannya di asrama pernah menghadapi keadaan ketika makanan tidak tersedia. Pada pagi hari, mereka mencari apa pun yang bisa dikonsumsi untuk mengurangi rasa lapar sebelum pergi ke kampus. Salah satu yang dimakan Bahlil adalah mangga muda yang jatuh dari pohon.

“Nah bagaimana? Suatu ketika kami itu enggak ada makanan di asrama. Maka setiap pagi itu saya itu makan mangga muda. Bangun pagi, mangga muda jatuh. Itu kita pake sarapan pagi,” ujarnya.

Setelah makan seadanya, ia tetap berangkat kuliah. Ketika kembali ke asrama, rasa lapar datang lagi dan ia mencari buah-buahan lain yang tumbuh di sekitar tempat tinggalnya. Masa itu menjadi bagian paling berat dari perjuangannya menyelesaikan pendidikan di Jayapura.

“Abis itu pergi kuliah, pulang, lapar, makan buah apa di sekitar situ,” katanya.

Keterbatasan pangan dalam waktu tertentu akhirnya berdampak pada kondisi fisiknya. Bahlil mengisahkan bahwa perutnya pernah membengkak. Pada awalnya, keluhan tersebut dikira sebagai malaria. Namun, kondisi kesehatannya tidak membaik setelah diberi ramuan daun sambiloto yang direbus dan diminum.

Terungkap Mengalami Busung Lapar

Keadaan itu semakin serius karena seorang rekannya meninggal dunia. Bahlil sendiri beruntung memperoleh pertolongan lebih cepat dan segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan medis.

“Dua orang itu satu orang meninggal. Temen saya. Nah saya untung cepat dibawa lari,” tuturnya.

Sesudah diperiksa di rumah sakit, keluhan yang semula diduga malaria ternyata merupakan busung lapar. Kisah tersebut memperlihatkan risiko kesehatan yang dapat muncul ketika tubuh tidak mendapat asupan makanan memadai dalam waktu tertentu.

“Dikirain malaria. Jadi dikasih minum air sambiloto. Apa? Daun sambiloto itu dikasih panas, dikasih minum. Kok enggak sembuh-sembuh. Dibawa ke rumah sakit, ternyata busung lapar,” pungkas Bahlil.

Rangkaian pengalaman dari menjual kue cucur, menempuh perjalanan panjang dengan kapal perintis, hingga menghadapi kelaparan saat kuliah membentuk cerita perjuangan Bahlil Lahadalia. Ia menempatkan pengalaman-pengalaman tersebut sebagai pengingat atas masa sulit yang pernah dijalani bersama keluarga dan teman-temannya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Cerita Bahlil dari Jualan Kue Cucur?

Cerita Bahlil dari Jualan Kue Cucur is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Cerita Bahlil dari Jualan Kue Cucur matter?

Cerita Bahlil dari Jualan Kue Cucur matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.