beritaterbaik
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Rekor Baru, Defisit Anggaran AS Tembus Rp 7.700 Triliun dalam Sebulan

Published Agustus 14, 2026 · Updated Agustus 14, 2026 · By beritaterbaik - beritaterbaik.com

Rekor Baru Defisit Anggaran AS Tembus Rp 7.700 Triliun dalam Sebulan

Beritaterbaik.com – Amerika Serikat mencatatkan Rekor Baru Defisit Anggaran AS Tembus level tertinggi dalam lebih dari lima tahun terakhir. Kondisi ini terjadi akibat pembengkakan biaya Medicare serta beban bunga utang pemerintah federal yang semakin berat. Menurut laporan resmi Departemen Keuangan AS, defisit bulanan tersebut melampaui catatan sebelumnya pada tahun fiskal 2025.

Mengutip data dari CNBC yang dirilis pada Kamis (13/8/2026), defisit pada bulan Juli mencapai US$ 432,3 miliar atau setara dengan Rp 7.700 triliun. Angka ini menunjukkan kenaikan sekitar 48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini menjadikan Juli sebagai bulan dengan defisit terbesar sejak Maret 2021. Sementara itu, akumulasi defisit selama 10 bulan pertama tahun fiskal mencapai hampir US$ 1,8 triliun.

Faktor Utama Pendorong Defisit Anggaran

Pengeluaran Medicare menjadi kontributor terbesar dengan mencatatkan US$ 174 miliar pada bulan Juli. Angka ini naik drastis dari US$ 103 miliar pada bulan Juni sebelumnya. Total pengeluaran Medicare sepanjang tahun ini mencapai US$ 955 miliar. Besaran ini jauh melampaui belanja jaminan sosial sebesar US$ 141 miliar dan beban bunga bersih atas utang nasional sebesar US$ 104 miliar.

"Pengembalian dana tarif impor turut memberatkan anggaran dengan menelan biaya US$ 33 miliar, seiring langkah pemerintah yang terus memberikan potongan atas pungutan yang telah dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung."

Selain itu, anggaran mengalami tekanan sebesar US$ 99 miliar akibat hari pertama bulan tersebut jatuh pada hari non-kerja. Kondisi ini mempercepat pencairan berbagai pembayaran tunjangan, Supplemental Security Income, serta pembayaran Medicare. Pembayaran bunga utang sepanjang tahun fiskal berjalan berada tepat di posisi ketiga terbesar di bawah Social Security dan Medicare dalam porsi pengeluaran pemerintah.

Hingga saat ini di tahun fiskal berjalan, AS telah membayar US$ 1,17 triliun untuk melayani total utang nasional sebesar US$ 39,9 triliun. Dari jumlah tersebut, US$ 32,1 triliun di antaranya dipegang oleh publik. Biaya layanan utang pada periode yang sama tahun lalu tercatat sebesar US$ 1,01 triliun. Adapun bunga bersih, yakni bunga kotor Departemen Keuangan dikurangi bunga yang diterimanya mencapai total US$ 931 miliar.

Dampak Kebijakan Moneter terhadap Defisit

Selama bertahun-tahun, Presiden Donald Trump terus mendesak Bank Sentral AS (The Fed) untuk menurunkan suku bunga acuan sebagai upaya menekan biaya utang. Ia mulai menahan diri dari mengkritik bank sentral sejak calon pilihannya, Kevin Warsh, resmi menjabat sebagai ketua pada bulan Mei. Hingga baru-baru ini, pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang telah berada di atas target 2% milik bank sentral selama lebih dari lima tahun.

Kendati demikian, data inflasi terkini yang relatif jinak serta laporan data tenaga kerja yang melandai telah meredam ekspektasi tersebut. Meskipun para pelaku pasar berjangka tetap tidak memperhitungkan adanya peluang penurunan suku bunga untuk lima tahun ke depan. Untuk informasi lebih lanjut, pembaca dapat mengakses Berita Liputan6 secara berkala.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Defisit Anggaran AS

Berapa total defisit anggaran AS dalam satu bulan? Defisit anggaran AS pada bulan Juli mencapai US$ 432,3 miliar atau sekitar Rp 7.700 triliun.

Apa faktor utama penyebab defisit meningkat? Faktor utamanya adalah pembengkakan biaya Medicare sebesar US$ 174 miliar dan beban bunga utang pemerintah federal yang terus meningkat.

Bagaimana posisi pembayaran bunga utang AS? Pembayaran bunga utang berada di posisi ketiga terbesar setelah Social Security dan Medicare dalam porsi pengeluaran pemerintah.

Apakah The Fed akan menurunkan suku bunga? Saat ini pasar belum memperhitungkan peluang penurunan suku bunga untuk lima tahun ke depan meskipun data inflasi menunjukkan tren yang lebih stabil.

Related Reading